Tampilkan postingan dengan label Safari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Safari. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 September 2011

MERAYAKAN KEMENANGAN DENGAN PANJAT PINANG


Warga komplek Cokrah Paninggaran mempunyai cara unik dalam merayakan Idul Fitri: panjat pinang. Kegiatan yang dilaksanakan Jum’at siang (2/9) tersebut menarik perhatian pengguna jalan karena digelar di tepi Jalan Raya Paninggaran, tepatnya di lapangan sebelah utara jembatan Cokrah. Aneka hadiah, seperti baju, celana, tas sekolah, dan makanan minuman, bertengger di puncak pinang, siap diperebutkan.



Menurut Untung, koordinator kegiatan, gagasan panjat pinang tersebut muncul dalam pembicaraan santai. Gayung pun bersambut. Spontanitas warga terpicu seketika dan iuran sukarela pun terkumpul. Semuanya digunakan untuk belanja aneka hadiah yang dipajang di atas pohon pinang.





Peserta pun bersifat sukarela. Awalnya hanya anak-anak yang mengikuti dan berkotor-kotor dengan lumpur. Setelah cukup lama perjuangan tersebut hanya mampu menjangkau kurang dari setengah tinggi pohon pinang, beberapa orang dewasa terlihat turun gelanggang.

Tak jarang pondasi kukuh yang telah dibangun oleh anggota tim bawah hancur berantakan manakala anggota tim atas kehabisan tenaga untuk kemudian meluncur turun. Sesekali pondasi bawah terlihat tak mampu menahan berat beban yang tertumpu di pudak dan anak tangga yang siap menggapai hadiah pun turun kembali dengan tangan hampa. Tapi, lihatlah arti kerjasama itu. Tataplah keikhlasan berbagi beban saat pundak mesti disiapkan untuk diinjak anggota tim lain yang dianggap lebih mampu untuk menuju puncak. Bisakah perjuangan itu akan mencapai tujuan kala setiap anggota tim berambisi menjadi orang yang layak di puncak?




Hari beranjak sore kala kerjasama yang memerlukan koordinasi mantap tersebut berhasil mengantarkan salah satu anggota tim sampai ke puncak pohon pinang. Satu persatu hadiah diturunkan. Meski belepotan lumpur yang mulai mengering, semua terlihat senang dengan pembagian hadiah yang tak sama. Harga nominalnya mungkin tak terlalu besar. Tapi, semua tahu, bukan itu yang membuat acara di hari ketiga Syawal 1432 H tersebut berlangsung lancar dan meriah.

Penonton pun tak iri kala hadiah dibagi. Karena, mereka pun tahu, hanya yang berani mengambil resiko untuk belepotan lumpurlah yang akan membawa pulang hadiah.

Dan semua pulang dengan hati tenang. Setenang senja yang menjelang

Kamis, 01 September 2011

MEMANJAKAN LIDAH DENGAN KULINER KHAS PEKALONGAN DI ALUN-ALUN KEDUNGWUNI

Bila Anda melewati alun-alun Kedungwuni, rasanya teramat sayang kalau melewatkan aneka sajian kuliner khas Kabupaten Pekalongan di tempat tersebut. Soto tauto, garang asem, pindang tetel, dan yang pasti: sego megono, mudah dijumpai di sekitar alun-alun, yang memang ingin dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Pekalongan sebagai salah satu pusat wisata kuliner (info selengkapnya bisa dibaca DI SINI).

Megono, menurut Wikipedia, yakni irisan nangka muda dengan bumbu sambal kelapa. Rasanya gurih dan pedas dan cocok, biasanya dihidangkan ketika masih panas dengan menu tambahan lalapan pete serta ikan goreng. Di [Kabupaten Pekalongan] bagian selatan biasanya makanan ini dibuat ketika sedang hajatan yang kemudian diberikan untuk oleh-oleh para tamu undangan. Kebiasaan ini telah dilakukan turun temurun dari zaman dahulu kala. Nasi ini dibungkus dengan daun jati atau juga bisa dengan daun pisang, dan mereka biasa menyebutnya dengan nama "Sego Gori"(Nama lain dari Megono).

Sedangkan Taoto, sejenis sup daging kuah kental khas pekalongan dengan bumbu khas Taoco yaitu kedelai yang dibusukan hingga kental.

Pindang Tetel, Sebetulnya makanan ini sejenis dengan soto juga, namun perbedaanya adalah pada bumbu kuahnya yang diolah dengan menggunakan buah pucung yang sudah masak.

Deretan tenda bertuliskan “Mitra Binaan Disprindag dan PM Kabupaten Pekalongan" berjejer rapi, menjajakan aneka menu yang siap disantap di tempat ataupun dibawa pulang. Lokasinya yang strategis, mudah dijangkau dengan semua jenis kendaraan, termasuk angkutan kota.








Masih dalam suasana Idul Fitri, tak ada salahnya mampir ke Alun-alun Kedungwuni bila Anda melintas untuk berkunjung ke sanak famili, seperti yang saya lakukan di hari kedua Idul Fitri, sore tadi.

Selamat menikmati.



Pemimpin Redaksi

Berlangganan Artikel via Email

Silahkan masukkan email Anda:

Delivered by FeedBurner