Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2015

JUMAT SEHAT, JUMAT INFAQ, DAN JUMAT BERSIH 24 APRIL 2015

Pagi tadi, Jumat, 24 April 2015, sesuai jadwal, SD Negeri Tanggeran kembali menggelar Jumat Sehat. Yang membedakannya dengan Jumat Sehat sebelumnya, kali ini pelaksanaannya bersamaan dengan Jumat Infaq dan Jumat Bersih.


Jumat Sehat adalah kegiatan rutin senam bersama sedangkan Jumat Infaq adalah kegiatan pembiasaan siswa untuk menyisihkan sebagian uang sakunya untuk tabungan Hari Raya Idul Adha alias Idul Qurban. Jumat Bersih sendiri merupakan kegiatan pembiasaan siswa yang difokuskan pada kebersihan sekitar sekolah. 

Minggu, 09 September 2012

SEMARAK GERAK JALAN 2012: SINERGI DAN KOMPETISI

Sebagai rangkaian dari Peringatan Hari Ulang Tahun Kemedekaan Republik Indonesia ke-67 Tingkat Kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan Propinsi Jawa Tengah, Lomba Gerak Jalan selalu menarik perhatian masyarakat. Tak terkecuali di tahun 2012 ini. Puluhan tim tangguh dari tingkat SD/MI, SMP/MTs dan SMA/SMK/Umum turut ambil bagian dalam even tahunan tersebut.

Untuk kesekian kalinya, kompetisi menjadi ajang sinergi. Terlihat nyata bahwa peserta dari kalangan sipil berbaur, menyatu, dan bersinergi dengan jajaran TNI/POLRI. Sebuah simponi yang padu padan dengan tema Peringatan Hari Ulang Tahun Kemedekaan Republik Indonesia ke-67: Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Bekerja Keras untuk Kemajuan Bersama, Kita Tingkatkan Pemerataan Hasil-hasil Pembangunan untuk Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Berikut dokumentasi lomba yang berhasil terekam kamera. 









 Hasil lomba selengkapnya adalah sebagai berikut:

TINGKAT
KELOMPOK
JUARA KE
NAMA SEKOLAH
SD/MI
Putri
I
SDN 01 Lambanggelun


II
SDN 02 Notogiwang


III
SDN Sawangan

Putra
I
SDN Sawangan


II
SDN 01 Paninggaran


III
SDN 02 Winduaji
SMP/MTs
Putri
I
SMPN 2 Paninggaran


II
SMP Satu Atap Werdi


III
SMP Satu Atap Notogiwang

Putra
I
SMPN 2 Paninggaran


II
MTs Salafiyah Paninggaran


III
SMPN 1 Paninggaran
SMA/SMK/
Putri
I
SMAN 1 Paninggaran B
UMUM

II
SMAN 1 Paninggaran A


III
SMK Nurul Ummah C

Putra
I
SMAN 1 Paninggaran A


II
SMK Nurul Ummah A


III
PGRI

Dan inilah tim SD Negeri Tanggeran yang kelelahan sesaat setelah tiba di titik finish di halaman SMPN 01 Paninggaran. Meskipun belum membawa pulang satu pun piala, semangat berkompetisi tetap menyala. Jangan menyerah anak-anakku...!!!








 
Juara I Kelompok Putri Tingkat SD/MI, SD Negeri 01 Lambanggelun, sempat berpose sejenak di depan rumah dinas Camat Paninggaran. Kelompok Putranya pun tak mau ketinggalan.....










Tim Sepak Takraw SD Negeri 01 Lambanggelun, yang juga membawa pulang piala Juara I, pun berpose dengan gagahnya.




Menurut Helmy Mubarok, pelatih gerak jalan SD Negeri 01 Lambanggelun yang juga Sekretaris II Gerakan Pramuka Kwartir Ranting Paninggaran sekaligus pendamping lomba, kedua piala didedikasikan untuk Guru Penjasorkes SD Negeri 01 Lambanggelun, Imam Fauzan, yang tengah terbaring sakit. Turut berdoa, saudaraku, semoga lekas sembuh. Amin.


Selamat dan sukses untuk semuanya. Sampai berjumpa pada kompetisi berikutnya!


Tim Liputan SD Negeri Tanggeran

Sabtu, 21 Mei 2011

BANGKITLAH GURUKU...!!!(2)

Catatan Hari Kebangkitan Nasional 2011
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan


Dari kepemimpinan semacam itu, patutlah kita berharap lahirnya generasi-generasi baru Ali bin Abi Thalib, yang pada usia mudanya, bahkan sangat muda, telah berani mengambil resiko amat besar untuk bertaruh dengan kematian manakala beliau menggantikan posisi tidur Nabi Muhammad SAW yang pergi meninggalkan Mekah bersama Abu Bakar Assiddiq di malam nan gulita ketika kediaman Rasulullah telah dikepung oleh orang Kafir dengan senjata terhunus dengan misi tunggal: membunuh Rasulullah. Ali bin Abi Thalib muda pasti tahu bahwa peluangnya menjadi korban salah sasaran atau pelampiasan amarah orang-orang Kafir yang murka karena buruannya telah lepas nyaris 100%. Mengapa Ali muda berani mengambil resiko sebesar itu? Selain karena keberaniannya, penulis meyakini bahwa motivasi terbesar adalah karena ia meyakini akan kebenaran tindakan dari pemimpin, sahabat sekaligus gurunya, Nabi Muhammad SAW. Kelak, pada gilirannya Ali bin Abi Thalib memangku tugas sebagai pemimpin, kita tahu, sebagaimana sejarah Islam mencatatnya, bagaimana ia memimpin.

Nabi Muhammad SAW sendiri bukanlah pemimpin instan. Terlepas dari atribut istimewanya sebagai manusia yang maksum, terjaga dari perbuatan dosa serta jaminan masuk syurga, Beliau besar dan dibesarkan dalam lingkungan masyarakat jahiliyah yang penuh dengan kezaliman, kejahatan, dan pengkhalalan segala cara untuk mencapai tujuan. Karier Beliau diawali dengan menggembala kambing pada usia 8 tahun ketika hidup bersama Pamannya, Abu Thalib, sepeninggal kakeknya, Abdul Muthalib. Pada usia 12 tahun, Muhammad muda mengikuti pamannya berdagang ke Syam. Konflik antarsuku yang kemudian memicu Perang Fijar pun tak luput dari perhatian Beliau.

Pada perang yang berlangsung selama empat tahun tersebut, pada saat Beliau berusia 16-20 tahun, Beliau ikut membantu kaumnya, Quraish, meski disebutkan bahwa di perang itu Beliau hanya bertugas mengumpulkan anak panah. Pada usia 20-an, Beliau aktif dalam Hilfil Fudzul, suatu gerakan untuk memberantas kesewenangan di masyarakat dan melindungi yang teraniaya. Dalam usia yang relatif masih muda, 25 tahun, Beliau menjadi manajer bagi tim ekspedisi bisnis pengusaha ternama Mekah, Siti Khadijah, yang kelak jatuh cinta kepada Muhammad muda dan menjadi pendamping hidup Beliau.

Setelah menikah, ujian kompetensi dan kualitas metode kepemimpinan Beliau diawali manakala warga Mekah merenovasi Kakbah yang retak. Proses lancar renovasi tersebut terhenti ketika Hajar Aswad telah siap ditempatkan karena semua kabilah ingin mendapatkan kehormatan itu. Keluarga Abdud-Dar dan Adi’ bahkan telah mengangkat sumpah darah untuk menyerang siapapun yang akan mengambil tugas itu. Usul Abu Umayah bin Mughira dari Bani Makhzum sebagai orang tertua yang dihormati agar tugas menempatkan Hajar Aswad diberikan kepada orang yang pertama kali masuk ke pintu Shafa, diterima oleh semua kabilah. Orang itu ternyata Muhammad Al-Amien.

Dengan otoritas sesaat yang dimiliki, Beliau berhak menempatkan Hajar Aswad, suatu kehormatan yang didambakan oleh semua kabilah. Tetapi, lihatlah yang kemudian terjadi. Secara bijaksana, Beliau melibatkan semua keluarga untuk meletakkan batu hitam itu. Caranya: Beliau membentangkan kain. Semua pemimpin keluarga dipersilakannya memegang pinggir kain. Beliau mengangkat batu itu ke atas kain lalu semua secara bersama-sama menggotong batu tersebut. Terakhir, Beliau mengangkat dan meletakkannya pada tempat yang semestinya. Semua puas. (Kisah Hidup Nabi Muhammad SAW dari www.pesantren.net pada CD Compilasi Pakdenono edisi Juni 2006)

Pendidikan: Kunci Utama
Menurut pasal 3 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, fungsi pendidikan agama sejalan dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yaitu mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama.

Penegasan pendidikan agama sebagai ruh pendidikan nasional itu terlihat lebih jelas dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diberlakukan sebagai penyempurnaan terhadap Kurikulum Berbasis Kompetensi, yang ditandai dengan diberlakukannya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah bersamaan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah pada tanggal 23 Mei 2006, serta Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tentang Pelaksanaan Permen Nomor 22 Tahun 2006 dan Permen Nomor 23 Tahun 2006 pada tanggal 2 Juni 2006. Dalam Standar Isi Bab II Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum, cakupan Mata Pelajaran Agama dan Akhlak Mulia disebutkan bahwa “Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama”(Depdiknas, 2006:4).

KTSP yang memberikan keleluasaan kepada setiap kelompok atau satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum tersebut juga menempatkan tujuan yang senada sebagai prinsip utama dalam pengembangannya, yaitu: kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab(BSNP, 2006:5).

Peran Strategis Guru
Guru di sekolah adalah orang tua sekaligus pemimpin bagi anak didiknya. Bagi sebagian (besar) anak didik, guru adalah idola, disamping tentu saja panutan alias teladan. Dengan fungsi dan peran yang sedemikian besar, amatlah wajar apabila banyak pihak yang berharap sedemikian tinggi terhadap guru. Pertanyaan yang kemudian amat layak untuk dikemukakan adalah sudahkah guru mengerti dan memahami fungsi dan peran strategis serta tanggung jawab besar yang diamanatkan di pundaknya? Sudahkah pemahaman itu diletakkan lebih dari sekadar susunan huruf-huruf pada redaksi kalimat tugas pokok dan fungsi (tupoksi)?

Sungguh, bila guru adalah sebuah pilihan hidup, sukarela atau terpaksa, segala konsekuensi logis dari profesi digugu lan ditiru itu semestinya kita terima. Karena, profesi itu melekat tak sebatas pada pakaian seragam harian sehingga jam kerja guru mungkin dibatasi oleh aturan jam dinas tetapi jam kerja profesi guru adalah dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu dan tiga puluh satu hari sebulan. Sehingga, berpakaian apapun seorang guru, di manapun berada, dan dalam situasi apapun, guru adalah guru. Sebaliknya, bila guru hanya mengemban profesinya pada saat mengenakan seragam kerja saja, dan selebihnya, perilaku dan tindak-tanduknya sama sekali tak mencerminkan figur yang patut digugu lan ditiru, ia sedang memproklamirkan kepada dunia bahwa ”harganya” tak lebih dari harga seragam yang dikenakannya: beberapa puluh ribu rupiah.

Akhirnya, mudah – mudahan firman Allah SWT dalam Al-qur’an surat An – Nisa ayat 9 yang artinya : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang – orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka kuatirkan terhadap kesejahteraan mereka. Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar“ dapat menjadi bahan perenungan berharga untuk kita semua. Amin.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2011. Bangkitlah guruku!!!


Referensi
  1. Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan
  2. Departemen Pendidikan Nasional RI. 2003. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: CV. Eko Jaya
  3. Departemen Pendidikan Nasional RI. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22, 23, dan 24 Tahun 2006. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional RI


Pemimpin Redaksi

(Dirangkum dari artikel ”Belajar dari Ali bin Abi Thalib” yang diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis Pemuda Tingkat Nasional dan Penghargaan untuk Penulis Artikel Kepemudaan, yang diselenggarakan oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia bekerja sama dengan Forum Lingkar Pena/FLP, Mei 2009)

Jumat, 20 Mei 2011

BANGKITLAH GURUKU...!!!

Catatan Hari Kebangkitan Nasional 2011
Bagian pertama dari Dua Tulisan


Alkisah, seorang kakek terperosok di sebuah parit di tepi jalan desa. Kakek itu pun merintih kesakitan seraya meminta tolong. Tak lama kemudian, seorang tokoh masyarakat melewati jalan tersebut. Mendengar rintihan meminta tolong, sang tokoh menghentikan langkahnya dan bergegas mendekati kakek tersebut. Sesaat setelah mengamati keadaan sang kakek, sembari melihat jam tangannya, tokoh tersebut berkata, ”Mohon maaf, Kek. Saya ingin menolong kakek tapi saya telah ditunggu oleh Kepala Desa untuk membicarakan program pembangunan desa, yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Kakek tenang saja, nanti pasti ada orang yang lewat yang akan menolong kakek. Permisi.” Dan pergilah sang tokoh meninggalkan kakek yang masih terus merintih kesakitan.

Tak lama berselang, muncullah seorang tokoh agama. Setelah mengamati keadaan sang kakek, tokoh agama itu berujar, ”Mohon maaf, Kek. Saya ingin menolong kakek tapi saya telah ditunggu oleh jama’ah saya yang telah menanti sejak tadi. Ini pengajian bulanan jadi mereka telah menunggu sebulan lamanya untuk mendengarkan ceramah saya. Kakek tenang saja, nanti pasti ada orang lewat yang akan menolong kakek. Permisi.” Dan pergilah sang tokoh meninggalkan kakek sendirian.

Beberapa saat kemudian, lewatlah di jalan tersebut seorang pemulung berbaju lusuh. Mendengar rintihan meminta tolong, pemulung itu bergegas mendekat, kantong plastik dan batang besi dicampakkannya ke tanah, dan segera menolong kakek tersebut serta membawanya ke rumah penduduk terdekat. Setelah memastikan sang kakek mendapat pertolongan, pemulung itu mengambil barang-barangnya dan kembali meneruskan pekerjaannya: mencari sampah yang bisa dijual untuk membeli beras dan lauk untuk anak dan istrinya yang setia menunggu di rumah.

Momen yang Tepat
Ada hal mendasar yang ingin penulis sampaikan melalui ilustrasi di atas, yaitu momen. Tokoh masyarakat dan tokoh agama lebih memilih untuk melayani masyarakat yang menunggu mereka dengan dalih bahwa menolong kakek itu bukanlah momen yang tepat. Selain urusan masyarakat yang mereka anggap lebih penting daripada sekadar menolong seorang kakek, mereka meyakini bahwa akan datang orang lain yang akan melakukan pekerjaan itu.

Momen yang tepat. Itulah kata sakti yang sering ditunggu oleh banyak orang untuk melakukan sesuatu, tidak terkecuali oleh generasi muda. Seringkali kita temui generasi muda, yang umumnya terdidik, yang belum juga mau terjun ke masyarakat karena ”menunggu momen yang tepat”. Pilihan yang tidak sepenuhnya salah. Tetapi, perlu juga disadari bahwa proses menunggu tidak lantas membuat jarum jam berhenti berdetak sementara gerak dan geliat dinamika masyarakat amatlah dinamis.

Di sisi lain, terkadang juga kita temui generasi muda yang pada akhirnya lebih memilih mundur dari ”gelanggang pertempuran” dengan dalih bahwa masyarakat telah terlanjur rusak sehingga ia yang mencoba hadir sebagai agent of change, agen perubahan-sebutan yang amat dibanggakan hasil produksi kampus-ternyata tak mampu merubah apapun di masyarakat. Idealisme yang dibawa dari kampus nan megah, sumber referensi dari aneka buku, diktat, modul, dan karya ilmiah, serta teori-teori panjang lebar yang dengan susah payah telah dihafalkan, ternyata menjadi teramat abstrak manakala hendak diimplementasikan di kehidupan nyata.

Di kampus, yang haru-biru oleh gegap gempita semangat perubahan lengkap dengan teriakan dan acungan tangan mengepal, idealisme adalah kenyataan. Dan merupakan sebuah harga mati yang tak lagi bisa ditawar. Di masyarakat? Aneka kenyataan kemudian seringkali berujung pada kesimpulan singkat: untuk bertahan hidup, kenyataan adalah idealisme. Dan tenggelamlah sang agen perubahan pada pertempuran batin yang nyaris tanpa jeda. Tanpa ujung. Tidak sedikit yang menyerah kalah dan terkapar di titik frustrasi.

Tak adakah celah di antara dua pilihan itu? Apakah pilihan untuk memperjuangkan idealisme di masyarakat adalah semata-mata pilihan antara benar dan salah, antara hitam dan putih? Menurut penulis, ada. Memperjuangkan idealisme memang sebuah keniscayaan. Tetapi, kenyataan yang dihadapi di masyarakat juga sebuah fakta yang mesti dihadapi. Karena, konflik antara benar dan salah, jujur dan bohong, dan sejenisnya, tiada mengenal ruang dan waktu laksana hitam dan putih yang selain saling meniadakan juga saling mempertegas dan adakalanya saling melengkapi seperti papan catur yang padu-padan karena harmoni kedua warna tersebut. Lantas, mestikah mengorbankan idealisme hanya untuk diterima di masyarakat? Tak adakah jalan keluar untuk bisa eksis di masyarakat tanpa perlu menggadaikan idealisme, bahkan menjual murah dengan diskon besar-besaran?

Laboratorium Raksasa
Masyarakat adalah sebuah laboratorium raksasa. Disinilah segala teori akan diuji. Disinilah nyali akan dihadapkan pada fakta-fakta yang tak jarang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan analisa. Maka, siapapun yang memilih terjun di masyarakat, pasti akan menjumpai hal-hal tersebut di atas, dengan bentuk dan wujud yang beragam. Ibarat tempat magang, di laboratorium raksasa itulah setiap peserta dilatih untuk mengenali aneka persoalan sekaligus disodori beragam alternatif solusinya lengkap dengan segala resikonya, termasuk dengan resiko-resiko yang sulit diprediksi. Maka, teorinya, mereka yang telah mengikuti pelatihan akan memiliki bekal minimal yang tentu saja, akan berbeda dengan mereka yang sama sekali tak pernah mengikutinya. Generasi muda yang telah, atau setidaknya pernah menjalani pelatihan, sedikit banyak akan memiliki bekal manakala mereka kelak akan menjadi pemimpin.

Calon-calon pemimpin yang telah teruji di masyarakat kemungkinan besar telah memiliki modal dasar, minimal pernah berhadapan langsung dengan aneka karakter dan tipikal individu yang beragam latar belakang. Juga akrab dengan beragam konflik dan persoalan riil yang telah dan tengah dihadapi oleh masyarakat. Di titik inilah ia belajar dan diajari oleh kenyataan. Maka, manakala keluh kesah dan problematika masyarakat beserta aneka opsi solusinya telah sedemikian dekat dengan urat nadinya, kelak, andaikata ia berganti posisi, hijrah dari bawahan menjadi atasan, dari rakyat jelata menjadi pemimpin bangsa, Insya Allah ia akan tahu bagaimana menempatkan dirinya di hadapan orang-orang yang dipimpinnya. Insya Allah ia akan tahu bagaimana dulu ia dan masyarakat memiliki harapan-harapan kepada pemimpinnya, dan kini di pundaknyalah harapan-harapan itu dititipkan. Laksana guru, ia pernah menjadi murid. Ia paham betul bagaimana rasanya menjadi murid beserta segala penilaiannya terhadap aneka sosok guru yang pernah mendidiknya. Laksana sopir, ia pernah menjadi kernet sehingga sedikit banyak ia tahu bagaimana memperlakukan kernet sebagaimana ia dulu ingin diperlakukan.

Lantas, untuk menjadi sopir yang baik, mestikan setiap calon sopir menjadi kernet terlebih dahulu? Tentu tidak. Dalam praktiknya, asal telah memenuhi syarat normatif, seperti cakap mengemudi, memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM), dan sejenisnya, siapapun bisa menjadi sopir. Tetapi, bila kita dihadapkan pada dua kandidat dengan syarat normatif yang sama: sopir alumni sekolah mengemudi terkemuka yang baru lulus dan sopir yang telah kenyang pengalaman, benarkah kita akan memilih kandidat pertama, dan bukan kandidat kedua?

Pengalaman bukanlah segalanya. Tetapi, dari orang-orang yang telah berpengalaman di bidangnya, rasanya tidak berlebihan bila kita lebih mantap menitipkan amanah pada mereka. Mereka yang lahir dari ”rahim” masyarakat, hidup dan dihidupi oleh konflik, besar dan dibesarkan oleh denyut nadi kehidupan nyata, berkeringat dan bahkan menangis bersama derita banyak orang, berpeluang lebih besar untuk menjadi pemimpin yang memiliki empati, simpati, dan menghargai orang-orang yang dipimpinnya daripada pemimpin yang lahir dari ujung tongkat tukang sulap, dengan iringan mantra sim salabim disertai kepulan asap dan tiba-tiba hadir serta duduk di singgasana kepemimpinan.

Pemimpin yang telah tertempa oleh pengalaman, dalam lingkup yang paling kecil sekalipun, memiliki pengetahuan minimal atas orang-orang yang dipimpinnya, sebagaimana ia dulu berada pada posisi tersebut. Ia bukanlah orang yang gila jabatan karena sejarah panjangnya telah mengajarinya bagaimana ia dulu tak bisa menghargai dan menghormati pemimpin-pemimpinnya yang menjadi gila karena jabatannya. Ia tahu betul bagaimana bertindak secara benar diantara ketidakbenaran sebagaimana dulu pemimpin-pemimpinnya melakukan ketidakbenaran tersebut. Di bawah kepemimpinan mereka yang memahami pahit getirnya kehidupan, sakitnya dikhianati, dan perihnya dizalimi, serta pada saat yang bersamaan juga memahami jalur yang tepat arah lokomotif yang dikemudikannya, orang-orang yang dipimpinnya akan merasa tenang dan nyaman. Manakala mereka telah meyakini bahwa pemimpin mereka adalah orang yang benar, pada saat yang benar, dan di tempat yang benar, kemungkinan besar mereka pun akan menempatkan diri pada posisi serupa, loyalitas sepenuh hati dan berdedikasi tinggi.

Bersambung


Pemimpin Redaksi

(Dirangkum dari artikel berjudul ”Belajar dari Ali bin Abi Thalib” yang diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis Pemuda Tingkat Nasional dan Penghargaan untuk Penulis Artikel Kepemudaan, yang diselenggarakan oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia bekerja sama dengan Forum Lingkar Pena/FLP, Mei 2009)

Selasa, 10 Mei 2011

PELATIHAN KETERAMPILAN SENI KERAJINAN TANGAN GURU TK DAN SD


Bertempat di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan; Senin, 9 Mei 2011, ratusan guru TK dan SD mengikuti kegiatan Pelatihan Keterampilan Seni Kerajinan Tangan Guru TK dan SD yang dibuka oleh Kabid PPTK Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan, Siti Masruroh. Dalam kegiatan tersebut hadir Rieka Suatan sebagai nara sumber.

Siapa Rieka Suatan?
Nama lengkap Rieka Suatan, menurut Pusat Data dan Analisa TEMPO, adalah RIEKA HARTONO D. PUSPONEGORO SUATAN, yang lahir di Surabaya, Jawa Timur, 9 Juni 1945. Mengawali pendidikan di SD, Palembang kemudian SKP, Jakarta; SGKP, Jakarta (1962) dan Bunka Fukuso Gakuin, Jepang (1967), wanita yang bercita-cita menjadi penerus Kartini itu ingin mendirikan Institut Keterampilan Wanita. Yayasan Rieka's Atelier, yang didirikannya pada 1975, semula bermodalkan Rp 3.500 untuk biaya iklan mini. ''Plus 25 siswa yang masing-masing membayar uang pendaftaran Rp 10 ribu,'' tuturnya. Kini, kios sekaligus kantornya di Bali Room Hotel Indonesia, semarak oleh berbagai bunga dan hampir 14 ribu foto siswanya dari seluruh Indonesia.

Ia mengadakan kursus, berceramah, demonstrasi, lomba, dan pameran keterampilan bukan hanya di Jakarta, melainkan juga di berbagai daerah. Pameran gapura lambang tiap provinsi, karya para siswa Balai Latihan Kerja, diselenggarakannya di Balai Sidang Senayan, 1984. "Mereka kebanyakan tenaga drop out," tuturnya.Ia putri sulung dari tujuh bersaudara (Almarhum) Hendrik Suatan, bekas manajer Garuda Indonesia Airways (GIA). Ibunya, Ona, gemar menyulam. Sejak usia 12 tahun, ceritanya, ''Tiap tugas prakarya di sekolah, saya selalu nomor satu.'' Lalu belajar di Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP), ia hanya sampai kelas II. Namun, sempat ke Jepang, ia belajar home decoration, ikebana, make-up, desain pakaian, dan keterampilan yang berbau seni pada Bunka Fukuso Gakuin, Tokyo, 1967. Untuk kursus yang sama, ia pernah ke Filipina, Muangthai, India, dan Hong Kong.

Sebagai peragawati ia seangkatan dengan Rima Melati dan Gaby Mambo. Ia ikut main film Semusim Lalu, Akibat Cinta, Sirkuit Kemelut, dan paling akhir, Bunga-Bunga SMA, 1980. Ia menikah dengan Ir. Hartono, pegawai PT Caltex, putra Prof. Dr. Djuned Pusponegoro, bekas menteri riset, 1968.

Juri Pemilihan Wanita Karier Terbaik 1978 pernah memilih Rieka sebagai Wanita Karier Populer. Tahun itu juga ia diangkat menjadi Ketua Sanggar Keterampilan Wanita Kosgoro. Kerap mengisi Acara Keluarga TVRI pada tiap hari Minggu, Ketua Himpunan Pengrajin Indonesia (HINPI) ini pernah dikenal sebagai Ibu Singer untuk iklan perusahaan mesin jahit.

Sementara itu, di bawah judul Djufriah, Rieka, dan Barang-barang Buangan, Tempo Online edisi 11 November 1978 menulis:

Tahun 1964 Rieka berada di Tokyo dan tinggal selama 3,5 tahun di negeri sakura tersebut. Dia mempelajari hampir semuanya. Mulai dari ikebana, membuat boneka, dekorasi dan berbagai ketrampilan yang berbau seni. Tahun 1975, setelah melewati masa menikah sekian tahun, Rieka membentuk sebuah yayasan dengan tujuan mengajarkan kebolehannya dalam hal mengukir buah dan sayuran, mensablon, menganyam rotan dan sebagainya. Ketrampilan ini kini telah diikuti oleh 869 siswa di beberapa kota besar. Rieka pun mengadakan berbagai ceramah dan mendemonstrasikan ketrampilannya ini di berbagai kota, di depan para karyawati, grup-grup arisan, para guru sekolah, organisasi wanita.

Antusiasme Peserta
Peserta terlihat sangat antusias mendengarkan uraian dan melihat Rieka Suatan mempertunjukkan kelihaiannya mengolah aneka barang bekas, seperti kertas koran, kardus, botol, dan sebagainya, menjadi beragam benda-benda bernilai jual sekaligus artistik.







 

Di akhir kegiatan, Rieka Suatan mengajak peserta mempraktikkan langsung ilmu yang baru saja dipaparkannya, sebagai bekal bagi para guru dalam menyampaikannya kepada peserta didik.






Dzakiron
Peserta Pelatihan

Minggu, 30 Januari 2011

UNTUKMU, ANAKKU SAYANG……

Oleh : Dzakiron

Sabtu, 17 Desember 2010
Gedung KPRI MEKAR Paninggaran, 23.00 WIB
10 jam sebelum perlombaan


Tim Panitia Semarak Tahun Baru (STB) 1432 Hijriyah Kecamatan Paninggaran yang terdiri dari unsur Dewan Kerja Ranting (DKR) Gerakan Pramuka Kecamatan Paninggaran dan Jama’ah Barzanji Al Hidayah Paninggaran baru saja menyelesaikan penataan ruang KPRI MEKAR untuk persiapan Lomba Peragaan Busana Muslim untuk anak-anak setelah sebelumnya melakukan hal yang sama di Aula Kecamatan Paninggaran untuk Lomba Mewarnai Gambar. Sekitar jam 22.00, Tim Telkomsel sebagai sponsor telah memasang perangkat publikasi berupa umbul-umbul di sekitar Aula Kecamatan sedangkan sponsor lainnya, Honda 54 Motor Pos Penjualan Paninggaran, menempatkan umbul-umbul di depan Puskesmas Paninggaran yang berlokasi tepat di depan Terminal Paninggaran. Sembari menikmati kopi pengusir kantuk, teman-teman asyik ngobrol melepas lelah.


Setelah menelpon rekan kerjanya di SDN Krandegan, Nurul Ibadi, Bendahara Panitia, berhasil mendatangkan Printer Canon iP1900 yang akan digunakan untuk mencetak materi lomba mewarnai gambar. Setelah melewati kendala terhambatnya distribusi surat pemberitahuan lomba akibat padamnya listrik, saya, Nurul Ibadi, dan Helmy Mubarok; Sekretaris Panitia yang juga Ketua DKR Paninggaran, masih harus berjuang lagi untuk mencetak materi Lomba Mewarnai Gambar yang belum juga kami peroleh. Printer saya rusak. Demikian juga punya Helmy. Sebuah printer pinjaman multifungsi yang didatangkan beberapa hari sebelumnya ternyata tak bisa terdeteksi di laptop saya sehingga hanya bisa dimanfaatkan fungsi meng-copy-nya saja. Harapan terakhir ada pada Printer Canon.

Setelah memperjelas skema pembagian tugas untuk besok dan memastikan ruangan siap digunakan, kami meninggalkan KPRI.

Sesampainya di rumah, di ruang kerja, sekitar pukul 24.00, saya segera menyiapkan peralatan. Tawaran Helmy untuk membantu terpaksa saya tolak karena saya tahu, tenaganya telah terkuras untuk mengkoordinir pendistribusian surat ke semua sekolah se-Kecamatan Paninggaran. Beberapa waktu kemudian, Ibadi datang. Saya sudah memintanya untuk istirahat dan mengumpulkan tenaga untuk persiapan registrasi peserta lomba di lokasi. ”Bagaimana bisa tidur kalau materi lomba untuk besok belum siap? Kalau besok listriknya mati lagi bagaimana” jawabnya.

Saya tahu betul keresahan Ibadi. Juga Helmy yang sesekali masih mengirimkan sms. Sebagai Ketua Panitia, saya paham sekali resiko yang akan menghadang apabila malam itu saya gagal menyiapkan materi lomba sedangkan brosur lomba telah tertempel di belasan titik strategis di wilayah Kecamatan Paninggaran. Publikasi lomba melalui blog dan beberapa facebook juga telah menyebarluaskan informasi lomba ke delapan penjuru mata angin.

Tetapi, sesungguhnya, ada hal yang tak bisa saya sampaikan sepenuhnya kepada mereka berdua.

Beban Moral
Sedari awal saya mendapat amanat sebagai Ketua Panitia Semarak Tahun Baru (STB) 1432 Hijriyah Kecamatan Paninggaran, saya menyadari, setidaknya telah ada gambaran, seberapa besar pekerjaan yang akan saja jalani. Manakala Lomba Mewarnai Gambar telah diputuskan untuk dilaksanakan, jujur saja, pikiran saya mulai terusik. Wafda, putri saya, adalah siswi TK Pertiwi Paninggaran alias calon peserta dan istri saya, Ambar Puspitarini, adalah guru TK Pertiwi Paninggaran. Pernah menjadi Juara II Lomba Finger Painting (Lomba Melukis dengan Jari) dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional TK Tingkat Kabupaten Pekalongan pada 25 Maret 2010 membuat peluang Wafda untuk memenangkan lomba terbuka lebar (tanpa bermaksud mengecilkan peluang peserta lainnya) sementara ibunya pernah mewakili Kabupaten Pekalongan dalam Mengarang Cerita Bergambar dalam Lomba Kreatifitas TK Tingkat Propinsi Jawa Tengah Tahun 2006.

Sempat terfikir melarang Wafda untuk mengikuti lomba tetapi saya batalkan karena saya membayangkan reaksi wali murid TK Pertiwi Paninggaran manakala Ibunya Wafda sebagai guru memobilisasi siswa lainnya untuk mengikuti lomba sementara anaknya sendiri tidak ikut. Atau mungkin reaksi guru TK lain pada forum KKG TK Gugus Wijayakusuma. Sedangkan dari awal saya sendirilah yang paling mendorong istri saya sebagai satu-satunya guru PNS TK di Kecamatan Paninggaran sekaligus sebagai sekretaris KKG TK untuk berperan aktif sebagai inisiator dan motivator kegiatan-kegiatan TK.

Meletakkan jabatan sebagai Ketua Panitia? Ah, bukan pilihan bijak. Sesuai dengan tema “Dengan Semangat Tahun Baru 1432 Hijriyah, Kita Tingkatkan Kepedulian dan Solidaritas Terhadap Anak Yatim dan Fakir Miskin”, misi utama STB 1432 H adalah menggalang dana kepedulian untuk anak yatim dan fakir miskin. Juga akan diluncurkan Program Pengelolaan Sadaqah, Infaq, dan Zakat (SaInZa) yang telah dibahas oleh Jama’ah Al Hidayah Paninggaran berbulan-bulan sebelumnya sementara saya sendiri adalah penggagas program itu. Belajar dari sejarah panjang Paninggaran, program-program penggalangan dana dari masyarakat akan sangat ditentukan dan bertumpu pada figur pengurusnya. Beberapa program serupa tak berumur panjang manakala penyakit krisis kepercayaan telah menghinggapi masyarakat. Setelah melalui proses panjang dengan perdebatan alot, Al Hidayah memutuskan untuk menjalankan rintisan program itu karena memandang sifat kepentingannya yang sudah sangat perlu dan mendesak. Tentu bukan karena Al Hidayah merasa superior dan lebih “bersih”. Tetapi, sebagai organisasi baru yang berumur empat tahun dengan figur-figur baru, tersirat harapan bahwa masyarakat akan lebih mudah menerima. Ustad Anshor sebagai penjaga gawang program pun menegaskan pentingnya menjaga jujur dan amanah sebagai landasan utama program.

Kenekadan saya mengusulkan program itu tentu bukan tanpa alasan. Beberapa kali pembicaraan dengan teman-teman PNS dalam forum tak resmi, dalam kurun waktu dua tahunan, menyuguhkan fakta menarik. Sebagian ternyata telah menunaikan zakat profesi dengan menyalurkannya langsung secara periodik dan sebagian kecil belum mengetahui. Tetapi, hampir semuanya bermuara pada sebuah pertanyaan: “Oke, kalau saya berminat menunaikan zakat profesi, organisasi atau lembaga mana yang akan menanganinya?”. Sebagai putra daerah yang lahir dan besar di Paninggaran, saya tahu betul bahwa sampai saat ini memang belum ada organisasi yang memproklamirkan diri sebagai pengelola zakat profesi. Sementara dalam kapasitas sebagai Sekretaris Forum Komunikasi Pekerja Sosial Masyarakat (FK-PSM) Kecamatan Paninggaran, sedikit banyak saya tahu adanya timbunan masalah-masalah sosial yang saya yakin akan sedikit terkurangi dengan adanya suatu sistim pengelolaan dana zakat, infaq, dan sadaqah yang menampung, mengelola, dan menyalurkannya secara proporsional, bertanggung jawab, transparan, dan akuntabel.

Kalau saya mundur, bagaimana kelanjutan program mulia itu?

Setelah dipertimbangkan matang-matang, saya putuskan untuk tetap pada rencana semula. Tetapi, sebagai imbasnya, saya mesti menyampaikan kepada teman-teman tentang standar kerja yang ingin saya terapkan dalan tim. Alhamdulillah, tim inti mendukung penuh.

Minggu, 18 Desember 2010, 01.30 WIB
Browsing di internet tak menghasilkan gambar sesuai harapan. Ditambah dengan stamina yang mulai menurun, konsentrasi pun mulai goyah. Saya pernah men-download gambar beberapa hari sebelumnya yang saya anggap layak untuk dilombakan. Tetapi, ketika masih dicetak, si kecil Wafda masuk ke ruang kerja dan melihat gambar itu. Alhasil, gambar itu langsung berpindah tangan karena dia memang sangat menyukai gambar-gambar baru untuk diwarnai. Pilihan akhir jatuh pada gambar yang saya pinjam dari Pak Kundarno, teman kuliah yang mengajar di TKIT Insan Mulia Kajen, yang saya ambil Sabtu sore sepulang kuliah. Setelah diberi tambahan kolom nomor peserta, mulailah proses penggandaan.

Baru beberapa belas meng-copy, tinta printer habis. Isi ulang tinta tak mengembalikan kondisi prima peralatan. Tinta refill tak terdeteksi catridge printer. Saya hirup kopi yang tinggal sedikit seraya saling tatap dengan Ibadi.

Minggu, 18 Desember 2010, 02.30 WIB
Semangat Ibadi tak mampu menyamai staminanya yang mulai kedodoran. Apalagi dengan peralatan yang nyaris tak bisa bekerja. Ia pun pulang. Sesungguhnya saya dalam kondisi yang sama. Mungkin lebih parah karena baru bakda Magrib saya sampai rumah sepulang kuliah setelah menempuh jarak sekitar 100-an km pulang pergi Paninggaran-STAIN Pekalongan. Tetapi, inilah salah satu resiko atas pilihan yang saya ambil. Selebihnya, saya memilih menyelesaikan persiapan administrasi untuk lomba. Pagi harinya mungkin saya bisa mencetaknya di Harmonis Multicollection Paninggaran punya Bang Asep yang selalu setia mendukung kegiatan-kegiatan yang saya gelar.

Minggu, 18 Desember 2010, 03.30 WIB
Apa daya, daya tahan saya pun tak lagi bersahabat dengan semangat. Seraya meneguk kopi terakhir, laptop pun saya shut down untuk mengakhiri kerja di dini hari itu. Di meja belajar Wafda terlihat sebaran kertas-kertas HVS Folio F4 dan foto copy-an kertas gambar yang belum sempat dirapikan. Di tempat tidur, Wafda terlihat sangat pulas memeluk Uminya. Sesaat kutatap keluarga kecilku itu. Beberapa hari yang lalu Umi sempat bertanya, “Abi, lomba nggambarnya jadi pake masjid?” yang hanya bisa saya jawab singkat, “Kita lihat saja nanti”. Maafkan Abi, sayang. Proses editing materi lomba terpaksa kulakukan di hari-hari terakhir semata-mata agar Wafda dan Umi tak bisa mengaksesnya, dengan resiko terburuk listrik kembali padam dan perlombaan dibatalkan. Aku pernah merasakan bagaimana sakitnya melihat hasil lomba yang dikebiri melalui cara-cara culas dengan mencampakkan kejujuran dan sportifitas. Aku pernah mengalaminya, berkali-kali, dan sakitnya seakan belum sembuh benar. Tak akan kubiarkan orang lain merasakan sakit itu di saat aku bisa melakukan sebaliknya. Dan tak akan kubiarkan orang-orang tercintaku menjadi bagian dari penebar rasa sakit itu.

Minggu, 18 Desember 2010, 07.45 WIB
Peserta mulai berdatangan di Aula Kecamatan Paninggaran. Sesuai prediksi, banyak sekolah yang akan mendaftar di hari H. TK Muslimat Kaliombo, menerjunkan satu mobil penuh peserta lengkap dengan satu peleton tim wali murid, yang kemudian mengantarkan TK di wilayah Timur Paninggaran itu sebagai TK dengan peserta terbanyak dan berhak atas selembar piagam penghargaan dan piala. Beberapa kali Wafda mendekat dan menggelayut manja di pundak saya yang duduk di meja registrasi. Dari seragamnya, terbaca jelas dari TK mana ia berasal. Sambil sesekali menulis, saya sampaikan kepada Wafda bahwa sebagai peserta ia harus bergabung dengan peserta lainnya di ruang lomba. “Nanti tulisan Abi tercoret, sayang.” kata saya memberi alasan. Dengan cemberut, Wafda menyingkir ke pintu masuk Aula dan selanjutnya ia berdiri di sana..

09.00 WIB
Mundur satu jam dari jadwal karena aliran peserta yang datang bergelombang, lomba dimulai. Selesai pukul 10.45 WIB, langsung dilanjut dengan Lomba Peragaan Busana Muslim di Gedung KPRI MEKAR Paninggaran sementara tim juri menyelesaikan penilaian.

12.45 WIB
Lomba selesai. Penilaian dari kedua tim juri pun final sudah. Rekapitulasi nilai diserahkan oleh perwakilan juri pada Ketua Panitia untuk dibacakan langsung di depan peserta. Tertera dengan bolpen warna hitam sebagai Juara I Lomba Mewarna Gambar Kelompok A PAUD Formal: Ilzama Maula Wafda Sabila, TK Pertiwi Paninggaran. Saya tak yakin apa yang ucapkan kala itu, hamdalah atau istigfar. Yang pasti, butuh beberapa detik bagi saya untuk mengembalikan kesadaran ke titik normal. Seraya menghela napas panjang, di bawah tatapan peserta dan guru pendamping serta panitia, saya membacakan hasil lomba. Dua hari kemudian, Senin (20/12), berita dan foto Lomba Peragaan Busana Muslimah termuat di Harian Suara Merdeka.

Sebuah Kado
Untuk Ilzama Maula Wafda Sabila, tulisan ini untukmu, Nak. Untuk Milad keenammu. Untuk ulang tahunmu hari ini.

Semoga Allah SWT berkenan memberikan umur panjang, keselamatan, dan rizki yan halal dan berkah bagi Abi dan Umi, untuk mendampingimu dalam menata dan mempersiapkan hari-harimu sampai titik dimana engkaulah yang akan menentukan jalan hidupmu sendiri. Hanya tulisan ini yang bisa Abi bingkiskan sebagai kado untukmu. Kelak, suatu saat, bila Allah mengizinkanmu membaca tulisan ini, Abi ingin engkau pun melakukan hal yang sama manakala di pundakmu telah tersemat sebuah amanat. Abi tak merasa melakukan hal yang istimewa, Nak, karena Abi juga manusia biasa yang setiap saat bisa tergelincir dalam khilaf dan dosa. Tetapi ingatlah bahwa setiap pilihan mengandung dan mengundang resiko. Pahami setiap resikonya, Nak, agar kelak engkau tahu atas setiap pilihan dan keputusanmu.

Tulisan ini kado untukmu. Tetapi, piala atas kemenanganmu dalam lomba itu bukanlah kado. Bukan pula kompensasi atas waktu Abi yang tersita belasan hari dalam mempersiapkan lomba dan tak bisa menemanimu dalam bermain dan belajar. Bukan juga karena Sekretaris Panitia adalah Om Helmy dan Bendahara Panitia adalah Om Ibadi yang telah engkau kenal. Sama sekali bukan. Piala itu adalah buah atas latihanmu berhari-hari dengan belasan atau bahkan puluhan lembar kertas yang penuh dengan coretanmu, dengan bimbingan Umi. Kalaupun dalam lomba itu engkau tak memperoleh satu pun piala, itu juga bukan sebuah kemalangan, Nak. Bukan pula sebuah aib yang mesti diratapi dan disesali. Kalah dan menang adalah hal yang lumrah dan mesti akan engkau temui dalam hari-harimu nanti. Sebuah kemenangan mungkin penting, Nak, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mencapai kemenangan itu. Ketika sebuah usaha telah dimaksimalkan dan ketika sebuah ikhtiar telah diupayakan, engkau telah menang bahkan sebelum hasil akhir diumumkan. Sebuah kekalahan pun akan sangat bermakna manakala kita bisa belajar atas kelemahan dan kekurangan kita serta pada yang sama menerima kemenangan orang lain dengan lapang dada dan ksatria.

Semoga Allah yang Maha Pemurah senantiasa memudahkan jalanmu, jalan Abi dan Umi, juga jalan semua orang-orang yang senantiasa berjuang dalam mendampingi putra putrinya di jalan yang semestinya. Teriring doa semoga Allah yang Maha Pengasih memberikan panjang umur dan keselamatan untuk keluarga dan kerabat yang tak jemu mendukungmu. Juga untuk teman-teman dan guru-gurumu. Tak lupa doa yang sama untuk Eyang Putri dan Eyang Kakung yang jauh di sana. Meski terpisah jarak dan waktu, Abi yakin, Beliau berdua, beserta segenap keluarga, turut berbahagia untuk hari ulang tahunmu.

Selamat milad, Wafda, sayang. Doa Abi dan Umi menyertaimu.

Berlangganan Artikel via Email

Silahkan masukkan email Anda:

Delivered by FeedBurner