Selasa, 01 Juni 2010

BANGKITLAH, PANINGGARANKU......(2)

Bagian II: Belajar dari Ali Bin Abi Thalib

Oleh: Dzakiron


Laboratorium Raksasa
Masyarakat adalah sebuah laboratorium raksasa. Disinilah segala teori akan diuji. Disinilah nyali akan dihadapkan pada fakta-fakta yang tak jarang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan analisa. Maka, siapapun yang memilih terjun di masyarakat, pasti akan menjumpai hal-hal tersebut di atas, dengan bentuk dan wujud yang beragam. Ibarat tempat magang, di laboratorium raksasa itulah setiap peserta dilatih untuk mengenali aneka persoalan sekaligus disodori beragam alternatif solusinya lengkap dengan segala resikonya, termasuk dengan resiko-resiko yang sulit diprediksi.

Maka, teorinya, mereka yang telah mengikuti pelatihan akan memiliki bekal minimal yang tentu saja, akan berbeda dengan mereka yang sama sekali tak pernah mengikutinya. Generasi muda yang telah, atau setidaknya pernah menjalani pelatihan, sedikit banyak akan memiliki bekal manakala mereka kelak akan menjadi pemimpin.
Calon-calon pemimpin yang telah teruji di masyarakat kemungkinan besar telah memiliki modal dasar, minimal pernah berhadapan langsung dengan aneka karakter dan tipikal individu yang beragam latar belakang. Juga akrab dengan beragam konflik dan persoalan riil yang telah dan tengah dihadapi oleh masyarakat. Di titik inilah ia belajar dan diajari oleh kenyataan. Maka, manakala keluh kesah dan problematika masyarakat beserta aneka opsi solusinya telah sedemikian dekat dengan urat nadinya, kelak, andaikata ia berganti posisi, hijrah dari bawahan menjadi atasan, dari rakyat jelata menjadi pemimpin (dari tingkat desa sampai negara), Insya Allah ia akan tahu bagaimana menempatkan dirinya di hadapan orang-orang yang dipimpinnya. Insya Allah ia akan tahu bagaimana dulu ia dan masyarakat memiliki harapan-harapan kepada pemimpinnya, dan kini di pundaknyalah harapan-harapan itu dititipkan. Laksana guru, ia pernah menjadi murid. Ia paham betul bagaimana rasanya menjadi murid beserta segala penilaiannya terhadap aneka sosok guru yang pernah mendidiknya. Laksana sopir, ia pernah menjadi kernet sehingga sedikit banyak ia tahu bagaimana memperlakukan kernet sebagaimana ia dulu ingin diperlakukan.
Lantas, untuk menjadi sopir yang baik, mestikan setiap calon sopir menjadi kernet terlebih dahulu? Tentu tidak. Dalam praktiknya, asal telah memenuhi syarat normatif, seperti cakap mengemudi, memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM), dan sejenisnya, siapapun bisa menjadi sopir. Tetapi, bila kita dihadapkan pada dua kandidat dengan syarat normatif yang sama: sopir alumni sekolah mengemudi terkemuka yang baru lulus dan sopir yang telah kenyang pengalaman, benarkah kita akan memilih kandidat pertama, dan bukan kandidat kedua?

Pengalaman bukanlah segalanya. Tetapi, dari orang-orang yang telah berpengalaman di bidangnya, rasanya tidak berlebihan bila kita lebih mantap menitipkan amanah pada mereka. Mereka yang lahir dari ”rahim” masyarakat, hidup dan dihidupi oleh konflik, besar dan dibesarkan oleh denyut nadi kehidupan nyata, berkeringat dan bahkan menangis bersama derita banyak orang, berpeluang lebih besar untuk menjadi pemimpin yang memiliki empati, simpati, dan menghargai orang-orang yang dipimpinnya daripada pemimpin yang lahir dari ujung tongkat tukang sulap, dengan iringan mantra sim salabim disertai kepulan asap dan tiba-tiba hadir serta duduk di singgasana kepemimpinan.

Pemimpin yang telah tertempa oleh pengalaman, dalam lingkup yang paling kecil sekalipun, memiliki pengetahuan minimal atas orang-orang yang dipimpinnya, sebagaimana ia dulu berada pada posisi tersebut. Ia bukanlah orang yang gila jabatan karena sejarah panjangnya telah mengajarinya bagaimana ia dulu tak bisa menghargai dan menghormati pemimpin-pemimpinnya yang menjadi gila karena jabatannya. Ia tahu betul bagaimana bertindak secara benar diantara ketidakbenaran sebagaimana dulu pemimpin-pemimpinnya melakukan ketidakbenaran tersebut. Di bawah kepemimpinan mereka yang memahami pahit getirnya kehidupan, sakitnya dikhianati, dan perihnya dizalimi, serta pada saat yang bersamaan juga memahami jalur yang tepat arah lokomotif yang dikemudikannya, orang-orang yang dipimpinnya akan merasa tenang dan nyaman. Manakala mereka telah meyakini bahwa pemimpin mereka adalah orang yang benar pada saat yang benar dan di tempat yang benar, kemungkinan besar mereka pun akan menempatkan diri pada posisi serupa, loyalitas sepenuh hati dan berdedikasi tinggi.

Dari kepemimpinan semacam itu, patutlah kita berharap lahirnya generasi-generasi baru Ali bin Abi Thalib, yang pada usia mudanya, bahkan sangat muda, telah berani mengambil resiko amat besar untuk bertaruh dengan kematian manakala beliau menggantikan posisi tidur Nabi Muhammad SAW yang pergi meninggalkan Mekah bersama Abu Bakar Assiddiq di malam nan gulita ketika kediaman Rasulullah telah dikepung oleh orang Kafir dengan senjata terhunus dengan misi tunggal: membunuh Rasulullah. Ali bin Abi Thalib muda pasti tahu bahwa peluangnya menjadi korban salah sasaran atau pelampiasan amarah orang-orang Kafir yang murka karena buruannya telah lepas nyaris 100%. Mengapa Ali muda berani mengambil resiko sebesar itu? Selain karena keberaniannya, penulis meyakini bahwa motivasi terbesar adalah karena ia meyakini akan kebenaran tindakan dari pemimpin, sahabat sekaligus gurunya, Nabi Muhammad SAW. Kelak, pada gilirannya Ali bin Abi Thalib memangku tugas sebagai pemimpin, kita tahu, sebagaimana sejarah Islam mencatatnya, bagaimana ia memimpin.

Nabi Muhammad SAW sendiri bukanlah pemimpin instan. Terlepas dari atribut istimewanya sebagai manusia yang maksum, terjaga dari perbuatan dosa serta jaminan masuk syurga, Beliau besar dan dibesarkan dalam lingkungan masyarakat jahiliyah yang penuh dengan kezaliman, kejahatan, dan pengkhalalan segala cara untuk mencapai tujuan. Karier Beliau diawali dengan menggembala kambing pada usia 8 tahun ketika hidup bersama Pamannya, Abu Thalib, sepeninggal kakeknya, Abdul Muthalib. Pada usia 12 tahun, Muhammad muda mengikuti pamannya berdagang ke Syam. Konflik antarsuku yang kemudian memicu Perang Fijar pun tak luput dari perhatian Beliau. Pada perang yang berlangsung selama empat tahun tersebut, pada saat Beliau berusia 16-20 tahun, Beliau ikut membantu kaumnya, Quraish, meski ada yang menyebutkan bahwa di perang itu Beliau hanya bertugas mengumpulkan anak panah. Pada usia 20-an, Beliau aktif dalam Hilfil Fudzul, suatu gerakan untuk memberantas kesewenangan di masyarakat dan melindungi yang teraniaya. Dalam usia yang relatif masih muda, 25 tahun, Beliau menjadi manajer bagi tim ekspedisi bisnis pengusaha ternama Mekah, Siti Khadijah, yang kelak jatuh cinta kepada Muhammad muda dan menjadi pendamping hidup Beliau.

Setelah menikah, ujian kompetensi dan kualitas metode kepemimpinan Beliau diawali manakala warga Mekah merenovasi Kakbah yang retak. Proses lancar renovasi tersebut terhenti ketika Hajar Aswad telah siap ditempatkan karena semua kabilah ingin mendapatkan kehormatan itu. Keluarga Abdud-Dar dan Adi’ bahkan telah mengangkat sumpah darah untuk menyerang siapapun yang akan mengambil tugas itu. Usul Abu Umayah bin Mughira dari Bani Makhzum sebagai orang tertua yang dihormati agar tugas menempatkan Hajar Aswad diberikan kepada orang yang pertama kali masuk ke pintu Shafa, diterima oleh semua kabilah. Orang itu ternyata Muhammad Al-Amien. Dengan otoritas sesaat yang dimiliki, Beliau berhak menempatkan Hajar Aswad, suatu kehormatan yang didambakan oleh semua kabilah. Tetapi, lihatlah yang kemudian terjadi. Secara bijaksana, Beliau melibatkan semua keluarga untuk meletakkan batu hitam itu. Caranya: Beliau membentangkan kain. Semua pemimpin keluarga dipersilakannya memegang pinggir kain. Beliau mengangkat batu itu ke atas kain lalu semua secara bersama-sama menggotong batu tersebut. Terakhir, Beliau mengangkat dan meletakkannya pada tempat yang semestinya. Semua puas.
Lembar terbatas ini tentu tak akan memadai untuk mendeskripsikan kisah mulia Beliau. Gambaran singkat di atas hanya untuk mempertebal benang merah tentang latar belakang calon pemimpin dan takaran metode kepemimpinannya kelak. Ternyata, disamping bekal pengalaman, yang paling utama adalah akhlak mulia sebagai pilar nomor satu. Tanpa itu, generasi baru yang meneruskan prosesi regenerasi dan kemudian mengganti, atau bahkan merebut tongkat komando kepemimpinan dari generasi sebelumnya, berpeluang besar melestarikan tradisi dendam: memimpin seperti pemimpin yang senantiasa dikritik dan dicelanya. Mestikah kita, generasi muda, melanjutkan dan melestarikan tradisi yang sama serta mengulang kesalahan serupa?

Kualifikasi Pemimpin Idaman
Dari ulasan di atas, menurut hemat penulis, idealnya seorang pemimpin memiliki kualifikasi minimal sebagai berikut:
- Jujur
Kejujuran seorang pemimpin bukan hanya dibutuhkan hampir di semua gerak langkah kepemimpinannya tetapi juga kejujuran pada dirinya sendiri. Kesadaran bahwa kejujuran seorang pemimpin untuk mengakui kesalahan, kekurangan, dan ketidakmampuannya tidak serta merta membuat seorang pemimpin kehilangan harga diri jarang dimiliki oleh para pemimpin. Sehingga kemudian mereka lebih memilih berlindung di balik perisai keangkuhan serta kesakralan jabatan. Tingkat kejujuran seorang pemimpin biasanya berbanding lurus dengan kesalehan individu dimana ketaatan dan ketakutannya disandarkan pada kesadaran akan Tuhan yang tak pernah tidur sedetik pun.
- Amanah
Dengan kompetensi yang dimilikinya, setiap orang akan tahu diri dan sadar posisi. Sebab, pada hakekatnya, yang lebih mengetahui kemampuan dan kapasitas seseorang adalah dirinya sendiri. Baginya, jabatan hanyalah sebuah konsekuensi logis dari tanggung jawab. Atau, lebih tepatnya, hanyalah sebuah sarana alias jembatan, dan bukan tujuan akhir. Kalaulah jabatan diidentikkan dengan prestasi, ia bukan kado yang dihadiahkan, melainkan piala yang diraih pascakompetisi sehat. Pemimpin yang amanah akan meletakkan jabatan di kedua tangannya. Bukan di kepala laksana mahkota yang disakralkan, apalagi diberhalakan. Juga bukan di kaki, yang kelak akan dijadikan pijakan untuk meraih segala ambisi dengan menghalalkan segala cara dan mengabaikan segala norma. Pemimpin yang amanah, yang tahu betul bahwa jabatan adalah amanat yang kelak akan dipertanggungjawabkan, memiliki keluasan berfikir dan berjiwa besar yang tak pernah risau oleh kalah atau menang, sehingga ia akan bersikap tenang laksana air yang mengalir pelan namun sulit dilukai. Kemenangan tak membuatnya mabuk dan lupa daratan sebagaimana kekalahan tak akan menyeretnya ke jurang kehinaan, naik darah, sibuk mencari kambing hitam, dan bergegas ambil posisi di seberang jalan dengan segumpal luka. Ia adalah sosok yang terjaga emosinya, sehingga ”kegemparan tak pernah membuatnya keget, kekacauan tak pernah membuatnya panik”, tutur Prie GS dalam Berdialog dengan Derita dalam kolom Serambi-nya Cempaka Minggu Ini terbitan Semarang beberapa tahun silam. Karena itulah ia pandai menempatkan diri. Di manapun posisinya, dia adalah pemimpin sejati, sebagaimana ajaran Ki Hajar Dewantara: ing ngarsa sung tuladha, di depan menjadi contoh; ing madya mangun karsa, di tengah membangun semangat; dan tut wuri handayani, di belakang memberi dorongan.
- Peduli
Pemimpin yang baik memiliki deposito simpati dan empati yang melimpah. Sebagaimana ia ingin dihargai dan diposisikan sebagaimana mestinya, ia paham betul bagaimanan menghargai dan memposisikan orang-orang yang dipimpinnya. Sebagaimana salat berjamaah yang berpahala lebih besar daripada salat sendirian, ia selalu mengedepankan team work alias kerja tim dalam upaya pencapaian target dan kinerja sehingga tanggung jawab akan terdistribusikan secara merata sesuai dengan porsinya masing-masing. Kepedulian yang tinggi membuat dia terhindar dari pengkultusan individu dan kecongkakan. Maka, dia adalah orang yang kali pertama merasakan lapar dan berada di barisan paling belakang yang merasakan kenyang. Bukan sebaliknya. Hubungan horisontalnya dengan sesama terawat baik dan berkualitas sebagaimana ia melakukan hal yang sama untuk hubungan vertikalnya dengan Tuhannya. Pemimpin yang memiliki kepedulian akan menempatkan orang-orang yang dipimpinnya sebagai mitra dan relasi, dan bukan sekedar sebagai anak buah atau bahkan pekerja rodi.
- Profesional
Pemimpin adalah sopir yang tahu betul arah dan tujuan dari kendaraan yang dikemudikannya. Selain manajer dan konseptor, ia juga motivator yang ulung. Profesionalisme akan menuntun pemimpin dalam merancang dan mengorganisasikan segala sumber daya yang dimilikinya, termasuk sumber daya orang-orang yang dipimpinnya. Langkah kakinya bukan hanya disandarkan pada Petunjuk Pelaksanaan atau Juklak dan Petunjuk Teknis atau Juknis semata, tetapi juga etika, norma, dan nurani. Ia paham betul kemungkinan resiko menempatkan orang-orang yang tidak tepat pada posisinya, sehingga penempatan personel ia lakukan benar-benar atas kebutuhan dan kualifikasi, dan bukan karena persahabatan atau bahkan karena sanak famili. Profesionalisme pulalah yang membuat seorang pemimpin bisa mengatasi segala situasi serta bisa menempatkan diri secara proporsional sebagai manajer, ayah, sahabat, sekaligus pendengar yang baik. Manakala seorang pemimpin telah, tengah, dan terus bertindak secara profesional atas landasan akhlakul karimah, pertanggungjawaban bukanlah momok yang menakutkan. Karena baginya, pertanggungjawaban tertinggi bukanlah kepada atasan, lembaga pengawas atau pemeriksa, juga bukan kepada orang-orang yang dipimpinnya, tetapi kepada Tuhan yang Maha Tahu.

Generasi Muda vs Generasi Tua
Perdebatan berkepanjangan tentang pemimpin dari generasi tua versus pemimpin dari generasi muda, yang masih saja berlangsung, selayaknya tidak menyurutkan langkah generasi muda untuk terus menempa diri dan kualitasnya. Sebab, pada dasarnya, setiap generasi tengah memahat prasasti sejarah untuk dirinya sendiri karena hari ini adalah sejarah pada esok hari. Kalaupun prosesi regenerasi belum jua memberi tempat bagi generasi muda, tentulah tak bisa diartikan dan serta merta digeneralisasi bahwa hal tersebut karena ketiadaan sumber daya manusia. Setidaknya, kelak, beberapa puluh tahun mendatang, generasi yang akan datang akan mengetahui bahwa generasi saat ini telah melakukan lebih dari sekadar upaya pembuktian diri.

Penutup
Dengan segala kurangannya, generasi muda adalah aset berharga sekaligus sumber daya manusia yang potensial. Bagaimanapun juga, generasi ini adalah calon-calaon pemimpin dan pelaku sejarah di masa yang akan datang. Proses pematangan menuju kedewasaan berfikir, bertindak dan bertanggung jawab akan menjadi upaya sia-sia belaka tanpa kesediaan dari generasi tua untuk memberi sedikit tempat bagi generasi penuh warna ini. Dalam mencoba membangun karakter pribadinya, rasa tanggung jawab terhadap diri dan masa depannya, Insya Allah, akan mudah terpupuk subur dan terpelihara dalam kondisi yang komunikatif dan fleksibel terhadap kritik, gagasan dan saran konstruktif. Sedikit atau tidak adanya calon-calon pemimpin muda berkualitas yang lahir dari kawah candradimuka bernama dunia generasi muda ini bukan hanya akan menghambat kelangsungan kehidupan beridealisme tinggi, tetapi juga akan menjadi bukti gagalnya proses regenerasi itu sendiri, yang berarti kegagalan generasi tua dalam mempersiapkan penggantinya. Jangan pernah melupakan satu hal: generasi muda saat ini adalah generasi tua esok hari. Ketidakmampuan, atau bahkan kegagalan generasi muda saat ini dalam meneruskan tongkat estafet kepemimpinan dari generasi sebelumnya akan menjadi mimpi buruk dan sejarah kelam bagi generasi selanjutnya.

Kemegahan dan kegemilangan yang dengan susah payah dibangun oleh generasi tua akan menjadi warisan tanpa makna bila tiada generasi muda yang siap siaga menerima tongkat estafet kehidupan.

Akhirnya, mudah – mudahan firman Allah SWT dalam Al-qur’an surat An – Nisa ayat 9 yang artinya : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang – orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak – anak yang lemah, yang mereka kuatirkan terhadap kesejahteraan mereka. Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar “ dapat menjadi bahan perenungan berharga untuk kita semua. Amin.

Tulisan ini dipersembahkan untuk Indonesia dan kampung halamanku tercinta: Paninggaran, dalam menyongsong, memperingati dan memaknai Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2010. Bangkitlah Paninggaran-ku. Bangkitlah Generasi Mudaku. Bangkitlah!!!

Sebelumnya:
Bagian I: Menunggu Momen yang Tepat

Baca juga di Blognya Pramuka Paninggaran


Catatan:
Tulisan ini diedit ulang dari karya tulis berjudul Pemimpin Muda Idaman: Belajar dari Ali Bin Abi Thalib yang diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis Pemuda Tingkat Nasional dan Penghargaan untuk Penulis Artikel Kepemudaan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia bekerja sama dengan Forum Lingkar Pena; Mei 2009).

Artikel Terkait



0 komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Artikel via Email

Silahkan masukkan email Anda:

Delivered by FeedBurner