Download Gratis Aplikasi Nilai Ujian Sekolah SD DI SINI

Rabu, 30 Maret 2011

10 JUTA UNTUK GURU AKTIF, KREATIF, DAN INOVATIF

Tantangan besar untuk guru kali ini datang dari Penerbit Erlangga. Di bawah label Erlangga Teacher of The Year 2011, Erlangga menggelar kompetisi bagi Guru SD dan Guru TK/RA/PAUD yang aktif, kreatif, dan inovatif dengan hadiah utama uang tunai Rp 10 juta plus paket wisata ke Bali.

A. Guru SD/MI

Ketentuan Lomba:

  1. Peserta adalah guru yang masih aktif mengajar di SD/MI.
  2. Peserta bersedia mengikuti babak penyisihan di kantor cabang Penerbit Erlangga (atau tempat yang ditentukan oleh panitia). Kepastian tempat dan tanggal dapat diakses pada www.erlangga.co.id
  3. Peserta terbaik harus bersedia mengikuti babak final Teacher of the Year 2011 di Jakarta.
  4. Peserta tidak dikenakan biaya apapun.
  5. Keputusan juri mengikat dan tidak dapatdiganggu gugat.

Tata Cara Pendaftaran Pendidik Favorit:
  1. Kirimkan data diri disertai fotokopi KTP dan portofolio/ dokumentasi pada saat mengajar.
  2. Peserta harus mengirimkan karya tulis minimal 1 halaman dengan tema “Mengapa Saya Layak Menjadi Erlangga Teacher of The Year 2011”.
  3. Berkas dikirimkan via pos atau email sebelum 14 Mei 2011 ke kantor Penerbit Erlangga di kota terdekat.
  4. Cantumkan logo Teacher of the Year di sebelah kiri atas amplop.
  5. Untuk keterangan atau informasi lebih lanjut dapat menghubungi marcomm Penerbit Erlangga di kota terdekat atau email ke erlangga.totysd@gmail.com

Poster Lomba Guru SD/MI silahkan lihat DI SINI

B. Guru TK/RA/PAUD

Ketentuan Lomba:

  1. Peserta adalah Laki-Laki atau Perempuan yang masih aktif sebagai pendidik anak usia dini (TK/RA/PAUD).
  2. Perserta harus bersedia mengikuti babak penyisihan di kantor cabang PT.Penerbit Erlangga.
  3. Peserta terbaik harus bersedia mengikuti babak final Teacher of the Year 2011 di Jakarta.
  4. Peserta tidak dikenakan biaya apapun.
  5. Keputusan juri mengikat dan tidak dapat diganggu gugat.

Tata cara Peserta Teacher of the Year 2011:
  1. Kirimkan data diri disertai fotokopi KTP dan portofolio/ dokumentasi pada saat mengajar.
  2. Peserta harus mengirimkan karya tulis minimal 1 halaman dengan tema “Mengapa Saya Layak Menjadi Erlangga Teacher of The Year 2011”.
  3. Kirimkan via pos atau email sebelum 14 Mei 2011 ke kantor Penerbit Erlangga di kota terdekat.
  4. Cantumkan logo Teacher of the Year di sebelah kiri atas amplop.
  5. Untuk keterangan atau informasi lebih lanjut dapat menghubungi marcomm Penerbit Erlangga di kota terdekat atau email ke erlangga.toty2011@yahoo.co.id

Poster Lomba Guru TK/RA/PAUD silahkan lihat DI SINI

C. Hadiah

Hadiah untuk kedua lomba sama, yaitu:
  1. Juara I : Uang Tunai Rp 10.000.000 + Paket Wisata ke Bali
  2. Juara II : Uang Tunai Rp 7.500.000
  3. Juara III : Uang Tunai Rp 5.500.000

D. Panitia Teacher of The Year 2011

CABANG JAKARTA: Jl. H. Baping Raya No. 100 Ciracas Jakarta 13740 Telp. (021) 8717006 ext. 144
CABANG BANDUNG: Jl. Soekarno Hatta No. 554 Bandung 40286 Telp. (022) 7500893
CABANG PALEMBANG: Jl. Demang Lebar Daun No. 269 Rt. 43 Rw. 11 Kel. Demang Lebar Daun Kec. Ilir Barat I Palembang 30137 Telp. (0711) 444463, 443368
CABANG MAKASSAR: Jl. Hertasning Raya No. 50 Makassar Telp. (0411) 883933
CABANG YOGYAKARTA: Jl. Gedong Kuning 132 Kotagede Yogyakarta 55171 Telp. (0274) 4436666
CABANG SEMARANG: Jl. Puspowarno Tengah No.38-40 Semarang Jawa Tengah 50143 Telp. (024) 7609432, 7609475, 7604394
CABANG MEDAN: Jl. Sisingamangaraja Km 10.5 No.5 (depan POLDASU) Medan Telp. (061) 7853885
CABANG PEKANBARU: Jl. Soekarno Hatta No. 98 Arengka Pekanbaru 28291 Telp. (0761) 571633, 571533
CABANG SAMARINDA: Jl. Bung Tomo No. 134 Kel. Sei Keledang Kec. Samarinda Seberang Telp. (0541) 261330
CABANG SURABAYA: Jl. Berbek Industri VII/15, Waru-Sidoarjo (Komp. SIER Surabaya) Telp. (031) 8687910-12

Sumber:
Erlangga Teacher of The Year 2011 "Guru SD" dan Erlangga Teacher of The Year 2011 "Guru TK"

Selamat berkompetisi menuju ke Pulau Bali!!!

Dzakiron
Pemimpin Redaksi

Rabu, 23 Maret 2011

LOMBA KARYA ILMIAH INOVATIF PEMBELAJARAN GURU SMA/SMK PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2011

Dalam rangka membangun budaya kreatif dan inovatif dalam kerangka kajian ilmiah serta budaya kompetensi di kalangan pendidikan SMA dan SMK di Jawa Tengah, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan Lomba Karya Ilmiah Inovatif Pembelajaran Guru SMA/SMK Tahun 2011.

Lomba karya Ilmiah Inovatif Pembelajaran Guru SMA/SMK Tahun 2011 bersifat perorangan (individual) dengan sasaran guru SMA/SMALB/SMK di Jawa Tengah.

A. KETENTUAN UMUM

  1. Peserta lomba adalah GURU PNS dan Non PNS yang aktif melaksanakan tugas.
  2. Peserta lomba hanya diijinkan mengirim 1 (satu) naskah karya ilmiah sesuai bidang tugas.
  3. Karya ilmiah belum pernah diikutsertakan pada lomba sejenis di tingkat provinsi maupun nasional.
  4. Keputusan Panitia tidak dapat diganggu gugat.
B. KETENTUAN UMUM

  1. Karya tulis ilmiah hasil pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
  2. Karya tulis ilmiah harus asli bukan jiplakan.
  3. Naskah karya ilmiah harus memenuhi :
  • Diketik dengan huruf Arial 12 spasi ganda
  • Ukuran kertas kwarto panjang halaman antara 15 s.d. 25 (Bagian awal dan lampiran tidak dihitung)
4. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
5. Naskah karya ilmiah harus dijilid cover warna :
  • Coklat untuk kelompok Guru SMA/SMALB
  • Kuning untuk kelompok Guru SMK
6. Naskah karya ilmiah dilampiri dengan :
  • Surat pernyataan penulis tentang keaslian karya ilmiah yang disahkan Kepala Sekolah
  • Biodata (Curriculum Vitae) penulis
7. Naskah karya ilmiah yang dilombakan sepenuhnya menjadi hak milik panitia.

C. KLASIFIKASI

  1. Guru Sekolah Menengah Atas (SMA/SMALB)
  2. Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

D. ASPEK YANG DINILAI


E. SISTEMATIKA PENULISAN

Penulisan Karya Ilmiah terdiri atas :
Bagian Depan
Bagian Isi :
Bab I Pendahuluan
Bab II Kerangka Teoritis, Kerangka Berpikir Dan Hipotesis
Bab III Pelaksanaan Penelitian
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab V Penutup
Daftar Pustaka
Lampiran

F. PENGHARGAAN PEMENANG

Pemenang Lomba pada masing-masing kelompok akan memperoleh piala dan piagam serta uang pembinaan dengan besaran :
1. Juara I : Rp. 10.000.000,-
2. Juara II : Rp. 7.500.000,-
3. Juara III : Rp. 5.000.000,-

G. ALUR PELAKSANAAN LOMBA


H. PENGIRIMAN NASKAH

Masukkan naskah ke dalam amplop dan tulis pojok kiri atas :
LOMBA KARYA ILMIAH INOVATIF PEMBELAJARAN
GURU 2011 dan dikirim sejumlah 3 (tiga) rangkap ke alamat :

Panitia Lomba Karya Ilmiah Inovasi Pembelajaran
Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2011.
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah,
u.p. Seksi PPTK Dikmen Bidang PPTK
Gedung D Lantai 2
Jl. Pemuda 134 Semarang 50132

Keterangan lebih lanjut kunjungi
atau hubungi panitia
lomba melalui contact person :
Sungkana, S.Pd (08174154859)
Edy Sutrisno, S.Pd (081225429729)
Leaflet lomba dapat didownload DI SINI

Selasa, 22 Maret 2011

AL QUR'AN: SEBUAH KEAJAIBAN BERSIFAT MATEMATIS (2)

Mengapa 19?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu dijelaskan tentang sistem bilangan. Kita pasti mengenal betul sistem bilangan Romawi yang masih sangat dikenal pada saat ini, seperti I=1, V=5, X=10, L=50, C=100, D=500 dan M=1000. Seperti halnya pada sistem bilangan Romawi, sistem bilangan juga dikenal pada huruf-huruf arab. Bilangan yang ditandai pada setiap huruf dikenal sebagai “nilai numerik (numerical value atau gematrical value)”. Click link ini untuk mengetahui lebih jauh tentang nilai numerik.

Setelah mengetahui nilai dari setiap huruf arab tersebut, kita dapat menjawab mengapa 19 dipakai sebagai kode rahasia Allah dalam Al Qur’an, dan sekaligus dapat digunakan untuk mengungkap keajaiban Al Qur’an. Berikut beberapa hal yang dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa 19.

* 19 merupakan nilai numerik dari kata “Waahid” dalam bahasa arab yang artinya ‘esa/satu’ (lihat Tabel 2) Tabel 2. Nilai numerik dari kata “waahid”




* 19 merupakan bilangan positif pertama dan terakhir (1 dan 9), yang dapat diartikan sebagai Yang Pertama dan Yang Terakhir seperti yang dikatakan Allah, misalnya, pada QS 57 ayat 3 sebagai berikut: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS 57:3). Kata “waahid” dalam Qur’an disebutkan sebanyak 25 kali, dimana 6 diantaranya tidak merujuk pada Allah (seperti salah satu jenis makanan, pintu, dsb). Sisanya 19 kali merujuk pada Allah. Total jumlah dari (nomor surat + jumlah ayat pada masing-masing surat) dimana 19 kata “waahid” yang merujuk pada Allah adalah 361 = 19 x 19. Jadi 19 melambangkan keesaan Allah (Tuhan Yang Esa).

* Pilar agama Islam yang pertama juga dikodekan dengan 19

“La – Ilaha – Illa – Allah”

Nilai-nilai numerik dari setiap huruf arab pada kalimah syahadat di atas adalah dapat ditulis sebagai berikut

“30 1 – 1 30 5 – 1 30 1 – 1 30 30 5”

Jika susunan angka tersebut ditulis menjadi sebuah bilangan, diperoleh = 30113051301130305 = 19 x … atau merupakan bilangan yang mempunyai kelipatan 19. Jadi jelaslah bahwa 19 merujuk kepada keesaan Allah sebagai satu-satunya dzat yang wajib disembah.

Beberapa Contoh Bukti-bukti yang Sangat Sederhana tentang Kode 19

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa desain Al Qur’an yang didasarkan bilangan 19 ini, dapat dibuktikan dari penghitungan yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat komplek. Berikut ini hanya sebagian kecil dari keajaiban Al Quran (sistim 19) yang dapat ditulis dalam artikel singkat ini. Fakta-fakta yang sangat sederhana:

(1) Kalimat Basmalah pada (QS 1:1) terdiri dari 19 huruf arab.

(2) QS 1:1 tersebut diturunkan kepada Muhammad setelah Surat 74 ayat 30 yang artinya “Di atasnya adalah 19”.

(3) Al Qur’an terdiri dari 114 surah, 19×6.

(4) Ayat pertama turun (QS 96:1) terdiri dari 19 huruf.

(5) Surah 96 (Al Alaq) ditempatkan pada 19 terakhir dari 114 surah (dihitung mundur dari surah 114), dan terdiri dari 19 ayat

(6) Surat terakhir yang turun kepada Nabi Muhammad adalah Surah An-Nashr atau Surah 110 yang terdiri dari 3 ayat. Surah terakhir yang turun terdiri dari 19 kata dan ayat pertama terdiri dari 19 huruf.

(7) Kalimat Basmalah berjumlah 114 (19×6). Meskipun pada Surah 9 (At Taubah) tidak ada Basmalah pada permulaan surah sehingga jumlah Basmalah kalau dilihat pada awal surah kelihatan hanya 113, tetapi pada Surah 27 ayat 30 terdapat ekstra Basmalah (dan juga 27+30=57, atau 19 x 3). Dengan demikian jumlah Basmalah tetap 114.

(8) Jika dihitung jumlah surah dari surah At Taubah (QS 9) yang tidak memiliki Basmalah sampai dengan Surah yang memuat 2 Basmalah yaitu S 27, ditemukan 19 surah. Dan total jumlah nomor surah dari Surah 9 sampai Surah 27 diperoleh (9+10+11+…+26+27=342) atau 19×18. Total jumlah ini (342) sama dengan jumlah kata antara dua kalimat basmalah dalam Surat 27.

(9) Berkaitan dengan inisial surah, misalnya ada dua Surah yang diawali dengan inisial “Qaaf” yaitu Surah 42 yang memiliki 53 ayat dan Surah 50 yang terdiri dari 45 ayat. Jumlah huruf “Qaaf” pada masing-masing dua surat tersebut adalah 57 atau 19 x 3. Jika kita tambahkan nomor surah dan jumlah ayatnya diperoleh masing-masing adalah (42+53=95, atau 19 x 5) dan (50+45=95, atau 19 x 5). Selanjutnya initial “Shaad” mengawali tiga surah yang berbeda yaitu Surah 7, 19, dan 38. Total jumlah huruf “Shaad” di ketiga surah tersebut adalah 152, atau 19 x 8. Hal yang sama berlaku untuk inisial yang lain.

(10) Frekuensi munculnya empat kata pada kalimat Basmalah dalam Al Qur’an pada ayat-ayat yang bernomor merupakan kelipatan 19 (lihat Tabel 3)

Tabel 3: Empat kata dalam Basmalah dan frekuensi penyebutan dalam ayat-ayat yang bernomor dalam Al Quran

No. Kata Frekuensi muncul

1 Ism 19

2 Allah 2698 (19×142)

3 Al-Rahman 57 (19×3)

4 Al-Rahiim 114 (19×6)

(11) Ada 14 huruf arab yang berbeda yang membentuk 14 set inisial pada beberapa surah dalam Al Qur’an, dan ada 29 surah yang diawali dengan inisial (seperti Alif-Lam-Mim). Jumlah dari angka-angka tersebut diperoleh 14+14+29=57, atau 19×3.

(12) Antara surah pertama yang berinisial (Surah 2 atau Surah Al Baqarah) dan surah terakhir yang berinisial (Surah 68), terdapat 38 surah yang tidak diawali dengan inisial, 38=19×2.

(13) Al-Faatihah adalah surah pertama dalam Al-Quran, No.1, dan terdiri dri 7 ayat, sebagai surah pembuka (kunci) bagi kita dalam berhubungan dengan Allah dalam shalat. Jika kita tuliskan secara berurutan Nomor surah (No. 1) diikuti dengan nomor setiap ayat dalam surah tersebut, kita dapatkan bilangan: 11234567. Bilangan ini merupakan kelipatan 19. Hal ini menunjukkan bahwa kita membaca Al Faatihah adalah dalam rangka menyembah dan meng-Esakan Allah.

Selanjutnya, jika kita tuliskan sebuah bilangan yang dibentuk dari nomor surah (1) diikuti dengan bilangan-bilangan yang menunjukkan jumlah huruf pada setiap ayat (lihat Tabel 4), diperoleh bilangan : 119171211191843 yang juga merupakan kelipatan 19.

Tabel 4: Jumlah huruf pada setiap ayat dalam Surah Al Faatihah



(14) Ketika kita membaca Surah Al-Fatihah (dalam bahasa arab), maka bibir atas dan bawah akan saling bersentuhan tepat 19 kali. Kedua bibir kita akan bersentuhan ketika mengucapkan kata yang mengandung huruf “B atau Ba’” dan huruf “M atau Mim”. Ada 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim. Nilai numerik dari 4 huruf Ba’ adalah 4×2=8, dan nilai numerik dari 15 huruf Mim adalah 15×40=600. Total nilai numerik dari 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim adalah 608=19×32 (lihat Tabel 5).

Tabel 5. Kata-kata dalam Surah Al-Fatihah yang mengandung huruf Ba’ dan Mim beserta nilai numeriknya.


Kejadian Di Alam Semesta yang Terkait dengan Bilangan 19

Beberapa kejadian lain di alam ini dan juga dalam kehidupan kita sehari-hari yang mengacu pada bilangan 19 adalah:

· Telah dibuktikan bahwa bumi, matahari dan bulan berada pada posisi yang relatif sama setiap 19 tahun

· Komet Halley mengunjungi sistim tata surya kita sekali setiap 76 tahun (19×4).

· Fakta bahwa tubuh manusia memiliki 209 tulang atau 19×11.

· Langman’s medical embryology, oleh T. W. Sadler yang merupakan buku teks di sekolah kedokteran di Amerika Serikat diperoleh pernyataan “secara umum lamanya kehamilan penuh adalah 280 hari atau 40 minggu setelah haid terakhir, atau lebih tepatnya 266 hari atau 38 minggu setelah terjadinya pembuahan”. Angka 266 dan 38 kedua-duanya adalah kelipatan dari 19 atau 19×14 dan 19×2.

Lima Pilar Islam (Rukun Islam) dan Sistem 19

Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh nabi sejak Nabi Ibrahim sebagai the founding father of Islam (misalnya lihat QS 2:67, 130-136; QS 5:44, 111; QS 3:52).Pesan utama yang disampaikan oleh seluruh Nabi sejak Nabi Ibrahim sampai Nabi Muhammad adalah sama yaitu menyembah Allah yang Esa, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji. Allah menyempurnakan Islam melalui Nabi Muhammad. Jadi praktek shalat, zakat, puasa dan haji telah dilakukan dan diajarkan oleh Nabi-nabi sejak Nabi Ibrahim. Dari kelima pilar agama Islam, dapat ditunjukkan bahwa semua berkaitan dengan sistim bilangan 19 (kelipatan 19).

· Syahadat

Telah dibahas di atas bahwa pilar pertama agama Islam “Laa Ilaaha Illa Allah” didisain berdasarkan bilangan 19.

· Shalat

Kata “shalawat” yang merupakan bentuk jamak dari kata “shalat“ muncul di Al Qur’an sebanyak 5 kali. Ini menunjukkan bahwa perintah Allah untuk melaksanakan shalat 5 kali sehari dikodekan di Al Qur’an. Selanjutnya jumlah rakaat dalam shalat dikodekan dengan bilangan 19. Jumlah rakaat pada shalat subuh, zuhur, ashar, maghrib dan isya masing-masing adalah 2,4,4,3, dan 4 rakaat. Jika jumlah rakaat tersebut disusun menjadi sebuah angka 24434 merupakan bilangan kelipatan 19 atau (24434 = 19×1286). Digit 1286 kalau dijumlahkan akan didapat angka 17 (1+2+8+6) yang merupakan jumlah rakaat shalat dalam sehari. Untuk hari Jum’at jumlah rakaat Shalat adalah 15, karena Shalat Jum’at hanya 2 rakaat. Ini juga dapat dikaitkan dengan bilangan 19 (kelipatan 19). Jika kita buat hari Jum’at sebagai hari terakhir, maka jumlah rakaat shalat mulai hari Sabtu sampai Jum’at dapat ditulis secara berurutan sebagai berikut: 17 17 17 17 17 17 15. Jika urutan bilangan tersebut kita jadikan menjadi satu bilangan 17171717171715, maka bilangan tersebut merupakan bilangan dengan kelipatan 19 atau (19 x 903774587985). Jadi pada intinya shalat itu menyembah Tuhan yang Satu (ingat: 19 adalah total nilai numerik dari kata ‘waahid’). Surah Al-Fatihah yang dibaca dalam setiap rakaat dalam Shalat seperti dibahas sebelumnya juga mengacu pada bilangan 19. Selanjutnya, kata “Shalat’ dalam Al Qur’an disebutkan sebanyak 67 kali. Jika kita jumlahkan nomor surat-surat dan nomor ayat-ayat dimana ke 67 kata “Shalat” disebutkan, diperoleh total 4674 atau 19×246.

· Puasa

Perintah puasa dalam Al Qur’an disebutkan pada ayat-ayat berikut:

- 2:183, 184, 185, 187, 196;

- 4:92; 5:89, 95;

- 33:35, 35; dan

- 58:4.

Total jumlah bilangan tersebut adalah 1387, atau 19×73. Perlu diketahui bahwa QS 33:35 menyebutkan kata puasa dua kali, satu untuk orang laki-laki beriman dan satunya lagi untuk wanita beriman.

· Kewajiban Zakat dan Menunaikan Haji ke Mekkah

Sementara tiga pilar pertama diwajibkan kepada semua orang Islam laki-laki dan perempuan, Zakat dan Haji hanya diwajibkan kepada mereka yang mampu. Hal ini menjelaskan fenomena matematika yang menarik yang berkaitan dengan Zakat dan Haji.

Zakat disebutkan dalam Al Qur’an pada ayat-ayat berikut:


Penjumlahan angka-angka tersebut diperoleh 2395. Total jumlah ini jika dibagi dengan 19 diperoleh sisa 1 (bilangan tersebut tidak kelipatan 19).

Haji disebutkan dalam Al Qur’an pada ayat-ayat

- 2:189, 196, 197;

- 9:3; dan

- 22:27.

Total penjumlahan angka-angka tersebut diperoleh 645, dan angka ini tidak kelipatan 19 karena jika angka tersebut dibagi 19 kurang 1.

Kemudian jika dari kata Zakat dan Haji digabungkan diperoleh nilai total 2395+645 = 3040 = 19x160.

Penutup

Secara umum disimpulkan bahwa Al Qur’an didisain secara matematis. Apa yang dibahas di atas hanyalah sebagian kecil dari ribuan bukti tentang desain matematis dari Al Qur’an dan khususnya tentang bilangan dasar 19 sebagai desain Al Qur’an yang dapat disajikan pada tulisan ini. Selain itu, tulisan ini hanya memfokuskan pada contoh-contoh yang sangat sederhana, sementara untuk contoh-contoh yang sangat kompleks tidak disajikan di sini karena mungkin akan sulit dipahami oleh orang yang tidak memiliki latar belakang atau kurang memahami matematika.

Bilangan 19 yang juga berarti Allah yang Esa, dan juga berarti tidak ada Tuhan melainkan Dia, dapat dikatakan sebagai “Tanda tangan Allah” di alam semesta ini. Hal ini sesuai dengan salah satu firman Allah yang menyatakan bahwa seluruh alam ini tunduk dan sujud kepada Allah dan mengakui keesaan Allah. Hanya orang-orang kafir lah yang tidak mau sujud dan mengakui keesaan Allah. Allah dalam menciptakan Al Qur’an dan alam semesta ini telah melakukan perhirtungan secara detail, seperti firman Allah yang berbunyi: “dan Allah menghitung segala sesuatunya satu per satu (secara detail)” (QS 72:28). Jumlahkan angka-angka pada nomor surah dan ayat tersebut !!!!!! Anda memperoleh angka 19 (7+2+2+8=19).

Dari uraian di atas khususnya mengenai lima pilar Islam diperoleh kesimpulan yang sangat tegas bahwa pemeluk Islam adalah orang-orang yang pasrah dan tunduk menyembah dan mengakui keesaan Allah seperti yang ditunjukkan bahwa kelima pilar Islam tersebut berkaitan dengan sistim bilangan 19 (nilai numerik dari kata “waahid” atau Esa). Hal ini juga sesuai dengan Islam sendiri yang yang secara harfiah dapat berarti pasrah/tunduk.

Hal lain yang dapat diambil sebagai pelajaran dari sistim bilangan 19 sebagai disain Al Qur’an adalah terpecahkannya “unsolved problem” mengenai perdebatan di antara para ulama terhadap status “Basmalah” pada Surah Al-Faatihah apakah termasuk salah satu ayat dalam surah tersebut atau tidak. Dengan ditemukannya bilangan 19 sebagai disain Al Qur’an, bukti-bukti matematis pada tulisan ini telah membuktikan bahwa lafal “Basmalah” termasuk dalam salah satu ayat Surah Al-Fatihah.

Sebagai penutup, semoga tulisan ini dapat menambah keimanan bagi orang-orang yang beriman, menjadi tes/ujian bagi mereka yang belum beriman, dan menghilangkan keragu-raguan bagi mereka yang hatinya dihinggapi keragu-raguan akan kebenaran Al Qur’an. Allah akan membiarkan sesat orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya (QS 74:31).


Catatan:

Untuk memverifikasi “keajaiban matematis” dari Al Qur’an anda perlu menggunakan Al Qur’an yang dicetak menurut versi cetak Arab Saudi atau Timur Tengah pada umumnya. Mengapa? Hasil penelitian yang saya lakukan, terdapat banyak perbedaan antara Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya dan Qur’an versi cetak Arab Saudi (kebetulan saya memegang Qur’an versi cetak Arab Saudi), meskipun perbedaan tersebut tidak berpengaruh pada makna/arti. Perbedaan tersebut hanya pada cara menuliskan beberapa kata. Meskipun demikian, jika mengacu pada “Keajaiban Matematis” dari Al Qur’an, Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya (yang disusun oleh orang Indonesia) menyalahi aturan yang aslinya sehingga keajaiban matematis tidak muncul.

Saya hanya memberikan 2 contoh kata saja dari sekian kata yang berbeda penulisannya yaitu kata “shirootho” dan “insaana”. Menurut versi cetak Arab Saudi, tidak ada huruf “ALIF” antara huruf “RO’” dan “THO” pada kata “SHIROOTHO” (lihat di Surat Al Fatihah) dan antara huruf “SIN” dan “NUN”pada kata “INSAANA”, tetapi menurut versi cetak Indonesia pada umumnya terdapat huruf ALIF pada kedua kata tersebut. Pada versi cetak Arab Saudi, untuk menunjukkan bacaan panjang pada bunyi ROO dan SAA pada kata SHIROOTHO dan INSAANA, digunakan tanda “fathah tegak”. Saya paham, maksud orang menambahkan ALIF pada kedua kata tersebut agar lebih memudahkan bagi pembacanya, tetapi ternyata menyimpang dari aslinya. Maka dari itu anda menemukan jumlah huruf yang lebih banyak pada Surat Al Fatihah ayat 6 dan 7 dari yang saya tuliskan. Sebagai tambahan, salah satu ciri Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya adalah Surat Al Fatihah terletak pada HALAMAN 2, sementara versi cetak Arab Saudi, Fatihah berada pada HALAMAN 1.

Mengenai jumlah kata, kata harus didefinisikan sebagai susunan dari beberapa huruf (dua huruf atau lebih), sehingga anda harus memperlakukan “WA atau WAU” sebagai huruf meskipun bisa diartikan dengan kata “DAN” dalam bahasa Indonesia. Perlakuan “WA” (misalnya pada kata “WATAWAA”) sebenarnya bisa disamakan dengan “BI” (pada kata BISMI), karena kebetulan BI bisa gandeng dengan kata berikutnya, sementara WA tidak bisa ditulis gandeng dengan kata yang mengikutinya. Jadi jangan hitung “WA” sebagai kata, tetapi sebagai huruf.

Daftar bacaan:

1. Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya.

2. Suwaidan, S., Numeric Miracles In the Holy Qur’an, http://www.islamicity.org

3. Berbagai sumber di http://www.submission.org dan website terkait


Sumber: Ali Said

Diposting ulang dengan penambahan link eksternal, semata-mata untuk memperluas wawasan dan menambah referensi.

Dzakiron
Guru Pendidikan Agama Islam
SD Negeri Tanggeran

Minggu, 20 Maret 2011

AL QUR'AN: SEBUAH KEAJAIBAN BERSIFAT MATEMATIS

Keajaiban Al Quran dilihat dari sisi kandungannya telah banyak ditulis dan diketahui, tetapi keajaiban dilihat dari bagaimana Al Quran ditulis/disusun mungkin belum banyak yang mengetahui. Orang-orang non-muslim khususnya kaum orientalis barat sering menuduh bahwa Al Qur’an adalah buatan Muhammad. Padahal kalau kita baca Al Qur’an ada ayat yang menyatakan tantangan kepada orang-orang kafir khususnya untuk membuat buku/kitab seperti Al Quran dimana hal ini tidak mungkin akan dapat dilakukannya meskipun jin dan manusia bersatu padu membuatnya.

Tulisan singkat ini bertujuan untuk menyajikan beberapa keajaiban Al Qur’an dilihat dari segi bagaimana Al Qur’an ditulis, dan sekaligus secara tidak langsung juga untuk menyangkal tuduhan tersebut, dimana Muhammad sebagai manusia biasa tidak mungkin dapat melakukan atau menciptakan sebuah Al Qur’an.

Pandangan sains secara konvensional menempatkan matematika sebagai suatu yang prinsipil dari sebuah cabang pengetahuan dimana alasan dikedepankan, emosi tidak dilibatkan, kepastian menjadi hal yang ingin diketahui, dan kebenaran hari ini merupakan kebenaran untuk selamanya. Dalam masalah agama, ilmuan memandang bahwa semua agama sama, karena semua agama sama-sama tidak mampu memverifikasi atau menjustifikasi kebenaran melalui pembuktian yang dapat diterima oleh logika. Jadi suatu hal dikatakan valid jika ada bukti nyata, dan pembuktian ini merupakan sebuah prosedur yang dibentuk untuk membuktikan suatu realitas yang tak terlihat melalui sebuah proses deduksi dan konklusi yang hasil akhirnya dapat diterima oleh semua pihak.

Dengan dasar tersebut, tulisan ini mencoba untuk membawa pembaca pada suatu kesimpulan bahwa Al Qur’an yang ditulis menurut aturan matematika, merupakan bukti nyata bahwa Al Qur’an adalah benar-benar firman Allah dan bukan buatan Nabi Muhammad. Kiranya patut juga direnungi apa yang dikatakan oleh Galileo (1564-1642 AD) bahwa . “Mathematics is the language in which God wrote the universe (Matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan dalam menuliskan alam semesta ini)” ada benarnya. Kebenaran bahasa matematika tersebut akan dibahas sekilas sebagai tambahan dari tema utama tulisan ini.

Angka-angka Menakjubkan dari Beberapa Kata dalam Al Qur’an

Kalau kita buka Al Quran dan kita perhatikan beberapa kata dalam Al Quran dan menghitung berapa kali kata tersebut disebutkan dalam Al Quran, kita akan peroleh suatu hal yang sangat menakjubkan. Mungkin kita bertanya, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencari dan menghitungnya. Dengan kemajuan teknologi khususnya komputer, hal tersebut tidak menjadi masalah.

Tabel 1 menyajikan frekuensi penyebutan beberapa kata penting dalam Al Qur’an yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan tabel tersebut ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik. Misalnya pada kata “dunya” dan “akhirat” yang disebutkan dalam Al Qur’an dengan frekuensi sama, kita dapat menafsirkan bahwa Allah menyuruh umat manusia untuk memperhatikan baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat secara seimbang. Artinya kehidupan dunia dan akhirat sama-sama penting bagi orang Islam. Selanjutnya pada penyebutan kata “malaaikat” dan “syayaathiin” juga disebutkan secara seimbang. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa kebaikan yang direfleksikan oleh kata “malaaikah” akan selalu diimbangi oleh adanya kejahatan yang direfleksikan oleh kata “syayaathiin”. Hal lain juga dapat kita kaji pada beberapa pasangan kata yang lain.

Tabel 1. Jumlah Penyebutan beberapa Kata Penting dalam Al Quran


Sumber: From the Numeric Miracles In the Holy Qur’an by Suwaidan, http://www.islamicity.org

Beberapa kata lain yang menarik dari tabel tersebut adalah kata “syahr (bulan)” yang disebutkan sebanyak 12 kali yang menunjukkan bahwa jumlah bulan dalam setahun adalah 12, dan kata “yaum (hari)” yang disebutkan sebanyak 365 kali yang menunjukkan jumlah hari dalam setahun adalah 365 hari. Selanjutnya Kata “lautan (perairan)” disebutkan sebanyak 32 kali, dan kata “daratan” disebut dalam Al Quran sebanyak 13 kali. Jika kedua bilangan tersebut kita tambahkan kita dapatkan angka 45.

Sekarang kita lakukan perhitungan berikut:

· Dengan mencari persentase jumlah kata “bahr (lautan)” terhadap total jumlah kata (bahr dan barr) kita dapatkan:
(32/45)x100% = 71.11111111111%

· Dengan mencari persentase jumlah kata “barr (daratan)” terhadap total jumlah kata (bahr dan barr) kita dapatkan:
(13/45)x100% = 28.88888888889%

Kita akan mendapatkan bahwa Allah SWT dalam Al Quran 14 abad yang lalu menyatakan bahwa persentase air di bumi adalah 71.11111111111%, dan persentase daratan adalah 28.88888888889%, dan ini adalah rasio yang riil dari air dan daratan di bumi ini.

Al Qur’an Didisain Berdasarkan Bilangan 19

Dalam kaitannya dengan pertanyaan yang bersifat matematis yang hanya memiliki satu jawaban pasti, maka jika ada beberapa ahli matematika, yang menjawab di waktu dan tempat yang berbeda dan dengan menggunakan metode yang berbeda, maka tentunya akan memperoleh jawaban yang sama. Dengan kata lain, pembuktian secara matematis tidak dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Perlu diketahui bahwa dari seluruh kitab suci yang ada di dunia ini, Al Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang seluruhnya ditulis dalam bahasa aslinya. Berkaitan dengan pembuktian, kebenaran Al Qur’an sebagai wahyu Allah yang sering dikatakan oleh orang barat sebagai ciptaan Muhammad, dapat dibuktikan secara matematis bahwa Al Qur’an tidak mungkin diciptakan oleh Muhammad.

Adalah seorang ahli biokimia berkebangsaan Amerika keturunan Mesir dan seorang ilmuan muslim, Dr. Rashad Khalifa yang pertama kali menemukan sistem matematika pada desain Al Qur’an. Dia memulai meneliti komposisi matematik dari Al Quran pada 1968, dan memasukkan Al Qur’an ke dalam sistem komputer pada 1969 dan 1970, yang diteruskan dengan menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Inggris pada awal 70-an. Dia tertantang untuk memperoleh jawaban untuk menjelaskan tentang inisial pada beberapa surat dalam Al Qur’an (seperti Alif Lam Mim) yang sering diberi penjelasan hanya dengan “hanya Allah yang mengetahui maknanya”.

Dengan tantangan ini, dia memulai riset secara mendalam pada inisial-inisial tersebut setelah memasukkan teks Al Qur’an ke dalam sistem komputer, dengan tujuan utama mencari pola matematis yang mungkin akan menjelaskan pentingnya inisial-inisial tersebut. Setelah beberapa tahun melakukan riset, Dr. Khalifa mempublikasikan temuan-temuan pertamanya dalam sebuah buku berjudul “MIRACLE OF THE QURAN: Significance of the Mysterious Aphabets” pada Oktober 1973 bertepatan dengan Ramadan 1393. Pada buku tersebut hanya melaporkan bahwa inisial-inisial yang ada pada beberapa surat pada Al Qur’an memiliki jumlah huruf terbanyak (proporsi tertinggi) pada masing-masing suratnya, dibandingkan huruf-huruf lain.

Misalnya, Surat “Qaaf” (S No. 50) yang dimulai dengan inisial “Qaaf” mengandung huruf “Qaaf” dengan jumlah terbanyak. Surat “Shaad” (QS No. 38) yang memiliki inisial “Shaad”, mengandung huruf “Shaad” dengan proporsi terbesar. Fenomena ini benar untuk semua surat yang berinisial, kecuali Surat Yaa Siin (No. 36), yang menunjukkan kebalikannya yaitu huruf “Yaa” dan “Siin” memiliki proporsi terendah. Berdasarkan temuan tersebut, pada awalnya dia hanya berfikir sampai sebatas temuan tersebut mengenai inisial pada Al Qur’an, tanpa menghubungkan frekuensi munculnya huruf-huruf yang ada pada inisial surat dengan sebuah bilangan pembagi secara umum (common denominator).

Akhirnya, pada Januari 1974 (bertepatan dengan Zul-Hijjah 1393), dia menemukan bahwa bilangan 19 sebagai bilangan pembagi secara umum dalam insial-inisial tersebut dan seluruh penulisan dalam Al Qur’an, sekaligus sebagai kode rahasia Al Qur’an. Temuan ini sungguh menakjubkan karena seluruh teks dalam Al Qur’an tersusun secara matematis dengan begitu canggihnya yang didasarkan pada bilangan 19 pada setiap elemen sebagai bilangan pembagi secara umum.

Sistem matematis tersebut memiliki tingkat kompleksitas yang bervariasi dari yang sangat sederhana (bisa dihitung secara manual) sampai dengan yang sangat kompleks yang harus memerlukan bantuan program komputer untuk membuktikan apakah kelipatan 19. Jadi, sistem matematika yang didasarkan bilangan 19 yang melekat pada Al Quran dapat diapresiasi bukan hanya oleh orang yang memiliki kepandaian komputer dan matematika tingkat tinggi, tetapi juga oleh orang yang hanya dapat melakukan penghitungan secara sederhana.

Selain 19 sebagai kode rahasia Al Qur’an itu sendiri, peristiwa ditemukannya bilangan 19 sebagai “miracle” dari Al Qur’an juga dapat dihubungkan dengan bilangan 19 sebagai kehendak Allah. Disebutkan di atas bahwa kode rahasia tersebut ditemukan pada tahun 1393 Hijriah. Al Qur’an diturunkan pertama kali pada 13 tahun sebelum Hijriah (hijrah Nabi). Jadi keajaiban Al Qur’an ini ditemukan 1393+13=1406 tahun (dalam hitungan hijriah) setelah Al Qur’an diturunkan, yang bertepatan dengan tahun 1974 M.


Surah 74 adalah Surah Al Muddatsir yang berarti orang yang berkemul (Al Quran dan Terjemahnya, Depag) dan juga dapat berarti rahasia yang tesembunyi, yang memang mengandung rahasia Allah mengenai keajaiban Al Qur’an. Dalam Surah 74 ayat 30-36 dinyatakan:

(74:30) Di atasnya adalah 19.

(74:31) Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami jadikan bilangan mereka itu (19) melainkan untuk:

- cobaan/ujian/tes bagi orang-orang kafir,

- meyakinkan orang-orang yang diberi Al Kitab (Nasrani dan Yahudi),

- memperkuat (menambah)keyakinan orang yang beriman,

- menghilangkan keragu-raguan pada orang-orang yang diberi Al kitab dan juga orang-orang yang beriman, dan

- menunjukkan mereka yang ada dalam hatinya menyimpan keragu-raguan; dan orang-orang kafir mengatakan: “Apakah yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan ini?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia. Dan ini tiada lain hanyalah sebuah peringatan bagi manusia.

(74:32) Sungguh, demi bulan.

(74:33) Dan malam ketika berlalu.

(74:34) Dan pagi (subuh) ketika mulai terang.

(74:35) Sesungguhnya ini (bilangan ini) adalah salah satu dari keajaiban yang besar.

(74:36) Sebagai peringatan bagi umat manusia.

Sebagian besar ahli tafsir menafsirkan 19 sebagai jumlah malaikat. Menurut Dr. Rashad Khalifa, menafsirkan bilangan 19 sebagai jumlah malaikat adalah tidak tepat karena bagaimana mungkin jumlah malaikat dapat dijadikan untuk ujian/tes bagi orang-orang kafir, untuk meyakinkan orang-orang nasrani dan yahudi, untuk meningkatkan keimanan orang yang telah beriman dan juga untuk menghilangkan keragu-raguan. Jadi, tepatnya bilangan 19 ini merupakan keajaiban yang besar dari Al Qur’an sesuai ayat 35 di atas, menurut terjemahan Dr. Rashad Khalifa (dan juga terjemahan beberapa penterjemah lain). Jadi pada ayat 35 kata “innahaa” merujuk pada kata “’iddatun” pada ayat 31.


(Bersambung)

Sumber: Ali Said

Diposting ulang dengan penambahan link eksternal, semata-mata untuk memperluas wawasan dan menambah referensi.


Dzakiron
Guru Pendidikan Agama Islam
SD Negeri Tanggeran

Sabtu, 19 Maret 2011

PENETAPAN PASANGAN CALON BUPATI DAN WAKIL BUPATI TAHUN 2011

Pada Hari Rabu, 16 Maret 2011, Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Pekalongan menyelenggarakan sosialisasi dengan media massa. Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 WIB itu dihadiri tidak kurang dari 28 media cetak dan elektronik.

Ketua KPU Kabupaten Pekalongan Dwi Mei Narna, SH memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas peran wartawan selama ini dalam tahapan Pemilu Bupati dan Wakil Bupati Pekalongan Tahun 2011 yang puncak pelaksanaannya pada hari Minggu Wage, 1 Mei 2011.


Dalam sosialisasi tersebut sekaligus dilaksanakan jumpa pers tentang keputusan KPU Kabupaten Pekalongan No. 270/16 Tahun 2011 tanggal 15 Maret 2011 tentang Penetapan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Pekalongan yang memenuhi syarat menjadi peserta Pemilukada. Mereka adalah pasangan Ir. H. Wahyudi Pontjo Nugroho, MT dan dr. Broto Raharjo yang diusulkan oleh Partai Golkar (41.926 suara), PKPB (8.834 suara), Pakar Pangan (473 suara), PDP (1.688 suara), PDK (1.627 suara), Partai Patriot (497 suara), PPRN (4.289 suara) dan Partai Barnas (4.171 suara), total suara 63.505 suara melebihi batas minimal persyaratan yaitu 60.138 suara.

Drs. H. Amat Antono, M.Si dan Fadia Arafiq diusulkan oleh Partai Demokrat (3 kursi), PPP (3 kursi), PKNU (2 kursi), Partai Gerindra (1 kursi) total kursi 9 (sembilan) kursi melebihi batas minimal persyaratan yaitu 7 (tujuh) kursi.

Dra. Hj. Siti Qomariyah, MA dan Riswadi diusulkan oleh PKB (11 kursi) dan PDI Perjuangan (10 kursi) jadi total kursi 21 (dua puluh satu) kursi atau melebihi persyaratan minimal 7 (tujuh) kursi.

Satu-satunya pasangan perseorangan yang lolos adalah pasangan Imam Djamhuri dan Cashuri, SH mengumpulkan dukungan sebanyak 32.496 melebihi persyaratan dukungan minimal 30.084 orang.

Surat Keputusan KPU selengkapnya silahkan lihat DI SINI

Sumber: Panitia Pemungutan Suara Desa Paninggaran Kecamatan Paninggaran

Jumat, 18 Maret 2011

Lulus Seratus Persen

Saat itu sekolahku lulus seratus persen, dengan aku menjadi bagian dari kelulusan. Kami semua berteriak dalam kegembiraan, tetapi anehnya kenapa masih ada kesedihan diam-diam.

Aku menyangka kesedihan itu bersumber dari perpisahan kami dari kenangan: dari sekolah, guru-guru, teman-teman, dan penjaga. Soal-soal yang semula biasa-biasa saja, baru ketika hendak berpisah, semuanya menjadi muncul dan berharga.

Saat itu, imajinasi kesedihanku baru sebatas menjangkau wilayah itu, tetapi tidak kini. Ada lagi agaknya sumber kesedihanku yang pelan-pelan terbaca di saat ini. Dulu sumber kesedihan ini tersimpan dalam, tanpa aku tahu, tetapi terus terasakan. Terasa tapi tidak tahu, itulah yang membingungkan.

Kini, tanpa ragu aku menebak sumber kesedihan misterius itu, ia tak lain adalah nilai matematika di ijazahku. Nilai itu cuma enam, terjelek di antara seluruh nilaiku. Aku menyangka nilai ini muncul lantaran kebencian guru matematikaku kepadaku. Diam-diam aku marah sekali pada guru itu. Nilai enam ini adalah noda di ijazahku yang akan terpatri di situ nyaris selamanya. Sekian lama aku sakit oleh nilai itu karena dan hampir saja aku menolak untuk melihat ijasah itu.

Kini aku malu sekali pada prasangkaku. Guru itu ternyata adalah guru yang amat baik kepadaku. Seorang guru lain diam-diam meyakinkanku, jika ukurannya adalah hasil ujian asli, nilai matematika bukan enam, tapi empat. Angka enam itu ternyata sudah terlalu tinggi untuk kemampuanku dan guru itulah yang membelaku. Jika cuma mengandalkan hasil ujian, aku adalah murid yang tidak lulus.

Itulah kenapa, meskipun aku ikut-ikutan bergembira, tetap saja ada kesedihan tersembunyi di hatiku. Karena ternyata kelulusan itu sejatinya bukan milikku. Itulah kenapa kebohongan itu tak bisa lenyap dari hati walau tak ada orang yang tahu. Menikmati sesuatu yang bukan milikku ternyata hanya kegembiraan semu.

Dan nilai ijazah palsu itu ternyata memang hanya kuat membelaku seperti nilai aslinya, cuma empat itu sajalah, sesuai dengan kemampuanku. Buktinya seluruh sekolah lanjutan yang kuanggap favorit, yang kusangka sesuai dengan derajatku, semuanya menolakku. Semua sekolah itu pasti membutuhkan nilai delapan asli untuk lulus seleksi, bukan nilai enam itu pun palsu.

Akhirnya, satu-satunya sekolah yang mau menerimaku adalah sebuah sekolah baru yang sedang butuh murid, yang masuk sore pulang petang dengan gedung menginduk, itupun bobrok pula.

Tak terkira rasa rendah diriku jika harus berpapasan dengan anak-anak yang masuk pagi. Ketika mereka pulang kami berangkat dan dari pandangan mereka aku tahu, mereka mencibirku. Keterbalikan jadwal ini sungguh setara rasanya dengan keterbalikkan nasibku. Tetapi beginilah memang mestinya murid dengan nilai empat ini. Bahkan masih ada sekolah yang mau menerimaku pun mestinya sudah sebuah anugerah.

Tapi di sekolah bobrok inilah ternyata aku menemukan teman-teman terbaik, guru-guru terbaik, lingkungan terbaik dan banyak sekali kebaikan lain yang tak pernah aku bayangkan. Begitu menyadari nilaiku cuma empat, dan cuma sekolah inilah yang mau menerimaku, rasa cintaku pada sekolah ini tumbuh pelan dan pasti.

Akhirnya seluruh usaha kupompakana agar yang empat ini menjadi enam, tujuh dan seterusnya, sekuatku, sebisaku, yang penting aku tidak lagi menipu. Ternyata, menyangkut soal nilai ijazah itu, yang paling berharga bukanlah besarannya, melainkan kejujurannya. Empat yang kuterima sebagai keaslikanku ternyata jauh lebih berguna katimbang enam tapi palsu.
(Prie GS/bnol)

Sumber: Prie GS

Didedikasikan untuk Keluarga Besar Guru Indoesia. Selamat mempersiapkan dan melaksanakan Ujian Nasional dengan menjunjung tinggi kejujuran...

Panitia Penyelenggara Ujian Nasional SD Negeri Tanggeran

Selasa, 15 Maret 2011

DATA GEOGRAFIS, PARIWISATA, DAN PENDIDIKAN KABUPATEN PEKALONGAN

Bagian Terakhir dari Empat Tulisan
Seri Mengenal Lebih Dekat Kabupaten Pekalongan


F. Data Geografis

1. Letak Geografis

Kabupaten Pekalongan merupakan salah satu dari 35 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah, yang berada di daerah Pantura bagian barat sepanjang pantai utara Laut Jawa memanjang ke selatan dengan Kota Kajen sebagai Ibu Kota pusat pemerintahan.

Secara geografis terletak diantara: 60 - 70 23’ Lintang Selatan dan antara 1090 - 1090 78’ Bujur Timur yang berbatasan dengan:

Sebelah Timur : Kota Pekalongan dan Kabupaten Batang
Sebelah Utara : Laut Jawa, Kota Pekalongan
Sebelah Selatan : Kabupaten Banjarnegara
Sebelah Barat : Kabupaten Pemalang

Secara Topografis, Kabupaten Pekalongan merupakan perpaduan antara wilayah datar diwilayah bagian utara dan sebagian merupakan wilayah dataran tinggi/pegunungan diwilayah bagian selatan yaitu diantaranya Kecamatan Petungkriyono dengan ketinggian 1.294 meter diatas permukaan laut dan merupakan wilayah perbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara, Kecamatan Lebakbarang, Paninggaran, Kandangserang, Talun, Doro, dan sebagaian diwilayah Kecamatan Karanganyar serta Kajen.




Kabupaten Pekalongan terbagi menjadi 19 kecamatan (sebelumnya terdiri atas 16 kecamatan kemudian dibentuk 3 kecamatan baru yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah/Perda Nomor 13 Tahun 2001 tanggal 7 Juli 2001) serta terdiri dari 270 desa, 13 kelurahan, 1180 dusun/lingkungan, 4008 RT dan 1438 RW.



 Lebih lanjut tentang peta dan profil kecamatan silahkan baca DI SINI


2. Iklim

Curah hujan pada tahun 2009 rata-rata per tahun 2.415 mm dengan rata-rata hari hujan 147 hari.


Curah hujan tertinggi terjadi di Kecamatan Lebakbarang rata-rata per tahun 6.246 mm, terendah Kecamatan Kedungwuni rata-rata per tahun 1.307 mm dengan rata-rata hari hujan 133 hari.


Kondisi tanah berdasarkan luas daerah Kabupaten Pekalongan 83.613,068 ha yang terdiri atas tanah sawah 253,86 km2 atau 30.36%, tanah kering 582,27 km2 (69,64%).

Luas areal lahan sawah di Kabupaten Pekalongan pada tahun 2009 seluruhnya seluas 25.385,841 ha, yang terdiri dari :
Sawah berpengairan teknis seluas 14.699,046 ha
Sawah berpengairan setengah teknis seluas 3.227,507 ha
Sawah berpengairan sederhana seluas 1.857,311 ha
Sawah berpengairan desa seluas 1.689,723 ha
Sawah tadah hujan seluas 3.806,025 ha
Sawah yang tidak diusahakan seluas 106,229 ha

Lahan bukan sawah seluas 58.227,227 ha yang terdiri dari :
Bangunan gedung, perumahan dan pekarangan seluas 12.117,829 ha
Tanah tegalan seluas 11.659,544 ha
Ladang/huma seluas 63,616 ha
Padang rumput seluas 145,175 ha
Tambak seluas 632,586 ha
Kolam/empang seluas 38,294 ha
Hutan negara seluas 26.218,959 ha
Hutan rakyat seluas 2.279,780 ha
Perkebunan negara/swasta seluas 2.598,687 ha
Lainya seluas 2.223,226 ha.

G. Pariwisata

Pekalongan telah lama dikenal sebagai kota batik, dan salah satu pusat produksi batik berada di Kecamatan Buaran dan Wiradesa. Beberapa nama produsen batik yang cukup dikenal diantaranya Batik Humas (singkatan dari Husein Mohammad Assegaff). Sedangkan pabrik sarung (kain palekat) terkenal di Pekalongan antara lain Gajah Duduk dan WadiMoor.

Dewobalitung
Berdasarkan penelitian dari Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) tahun 2005 Kabupaten Pekalongan termasuk daerah yang kondusif untuk investasi. Potensi-potensi unggulan di Kabupaten Pekalongan sebagai paket wisata yang mendukung bidang pariwisata dan perhotelan adalah paket “Dewo Balitung” (Pantai Depok, pantai Wonokerto Kampung Batik, Linggoasri dan Petungkriono). Obyek Wisata Linngoasri terletak sekitar 12 km kearah selatan dari Kota Kajen, kemudian kearah Utara ada Obyek wisata Pantai Depok dan Wonokerto dan juga wisata belanja di Kampung Batik di desa Kemplong yang berjarak ± 15 km dari kota Kajen. Selengkapnya silahkan baca DI SINI.
Kampung Batik
Kampung Batik Wiradesa yang terletak di Desa Kemplong mempunyai wilayah seluas 39 ha dengan jumlah penduduk sebanyak 2.902 jiwa. Penduduk mayoritas sebagai pedagang dan beragama islam. Kampung Batik Wiradesa Kabupaten Pekalongan diresmikan oleh Menteri Perdagangan RI Mari Elka Pangestu pada tanggal 30 April 2009. Lebih lanjut silahkan baca DI SINI.

Linggoasri
Panorama alami dan udara yang sejuk menjadi cirri khas obyek Wisata Linggoasri yang terletak di sebelah selatan Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan pada ketinggian 700 m dpl.Perpaduan potensi alam, pegunungan dan hutan wisata serta kondisi masyarakat yang masih pedesaan menjadi faktor yang menarik untuk dinikmati. Disamping itu, letak yang cukup menguntungkan di tepi jalan Propinsi antara Kabupaten Pekalongan dan Banjarnegara sangat memudahkan bagi wisatawan untuk berkunjung.


Ekowisata Petungkriyono
Petungkriyono merupakan salah satu kecamatan Kabupaten Pekalongan berlokasi di lereng Gunung Ragajambangan pada ketinggian 900 – 1600 m dpl. Sebuah kawasan yang sejuk dengan keragaman kemolekan dan keindahan alam yang cocok untuk tempat wisata. Dari ibukota Kabupaten Pekalongan berjarak 30 km dan dapat di capai dengan kendaraan umum. Sebagai kawasan ekowisata, Petungkriyono merupakan lokasi yang memberikan banyak pilihan untuk melakukan pemenuhan hasrat berwisata alam secara bertanggung jawab. Di kawasan ini anda dapat memperoleh pengalaman melakukan penjelajahan alam dan kegiatan outbond. Lebih lanjut silahkan baca DI SINI.

Bumi Perkemahan
Dengan luas 4 hektar, Camping Ground yang berada di Dusun Dranan Desa Yosorejo disediakan bagi para pecinta alam, pelajar maupun para wisatawan yang dilengkapi dengan MCK, Pendopo, Pos Jaga dan tempat bermain.

Obyek Wisata Watuireng 
Obyek wisata yang berupa batu besar dan berwarna hitam ini lebih dikenal masyarakat sebagai Obyek Wisata Watu Ireng. Watu Ireng yang terletak di Desa Lambur Kecamatan Kandangserang, 17 km ke arah selatan dari Ibukota Kabupaten Pekalongan, diperkirakan bagian dalamnya berongga.

Obyek Wisata Pantai Depok
Sebagai salah satu daerah pesisir, Kabupaten Pekalongan juga memiliki potensi wisata air yang berbeda dengan daerah – daerah sekitarnya yaitu Pantai Depok. Lokasi yang terletak di desa Depok Kecamatan Siwalan Kabupaten Pekalongan menyimpan banyak potensi yang layak dikunjungi. Sederetan pohon nyiur yang tumbuh disekitar kawasan Pantai Depok menjadi daya pemikat yang utama.

Obyek Wisata Pantai Wonokerto
Pantai Wisata Wonokerto terletak kurang lebih 5 km dari jalan raya Wiradesa arah utara tepatnya di Desa Wonokerto Kecamatan Wonokerto, pada bulan Dhulkaidah di tempat ini biasa diadakan acara sedekah laut yang diadakan oleh masyarakat nelayan setempat. 

Wisata Alam Lolong
Wisata Alam Lolong terletak kurang lebih 6 Km dari kota Kecamatan Karanganyar. Potensi wiasata ini juga didukung dengan adanya buah durian yang sudah cukup terkenal pada setiap musimnya.

Wisata Alam Rogoselo
Wisata Alam Rogoselo terletak kurang lebih 14 km dari ibu kota Kecamatan Doro tepatnya di Desa Rogoselo. Wisata berupa petilasan/cagar alam Arca Baron Sekeber dan Makam Ki Gede Atas Angin. 

Obyek Wisata Curug Muncar
Dikenal sebagai daerah yang sangat eksotis dengan keindahan air terjun dan pemandangan alamnya. Air terjun Curug Muncar ini banyak sekali dikunjungi oleh para wisatawan dan para pecinta alam. Lebih lanjut silahkan klik DI SINI.

Wisata Air Kali Pencongan
Kawasan Wisata Air Kali Pencongan terletak dipinggir jalan jalur Pantura, tepatnya di Kelurahan Pencongan Kecamatan Wiradesa yang berjarak ± 25 Km dari Kota Kajen Ibukota Kabupaten Pekalongan dan ± 5 Km kearah barat dari letak sungai Pencongan terdapat Pasar Grosir Batik Pantura sedangkan ± 10 Km kearah timur terdapat Pasar Grosir Batik Setono.

Sungai Pencongan panjangnya mencapai ± 5 Km (dari jembatan jalan raya Pantura sampai ke muara) dan lebarnya antara 50 – 80 meter dengan kedalaman alur sungai antara 3 – 4,5 meter pada musim penghujan sedangkan kedalaman sungai pada musim kemarau sekitar 2,4 meter.

Arus air sungai Pencongan dan arus pasang surutnya tergolong lambat yaitu kecepatannya hanya 0,10 m/detik, sedangkan lebar bantaran sungainya  sekitar 50 – 140 meter. Kawasan wisata ini sesuai dengan masterplan akan memanjang sampai dengan pantai Wonokerto dan TPI Jambean Kec.  Wonokerto. Kekayaan alam sungainya sangat beragam seperti ikan sembilang, kakap, belanak, wader, selar, sotong dan udang. Lebih lanjut silahkan baca DI SINI.


H. Data Pendidikan

Pada tahun 2009, jumlah sekolah tingkat TK/RA adalah 294 dengan 7.457 siswa, SD/MI=648 dengan 107.291, SLB=1 dengan siswa 114, SMP/MTs=122 dengan siswa 43.435, SMA/MA=26 dengan 10.520 siswa dan SMK=21 dengan 8.234 siswa. Jumlah total adalah 1.112 sekolah dengan 177.051 siswa


Pada tahun 2011, sebagaimana terbaca pada situs Data Pokok Pendidikan Wilayah Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan Periode 2010 / 2011, jumlah sekolah yang terdaftar di Dapodik Kementerian Pendidikan Nasional pada tanggal 15/03/2011 pk.14:00 WIB adalah 1.222 sekolah yang terdiri dari 394 TK (3 Negeri, 391 Swasta), 653 SD/MI (521 Negeri, 132 Swasta), 123 SMP/MTs (78 Negeri, 45 Swasta), 27 SMA/MA (12 Negeri, 15 Swasta), dan 25 SMK (4 Negeri, 21 Swasta). Selengkapnya silahkan lihat DI SINI.


Dari situs yang sama juga diperoleh data jumlah siswa yang telah terdaftar pada periode tersebut yaitu 141.472 siswa SD/MI, 33.202 siswa SMP/MTs, 7.433 siswa SMA/MA, dan 6.733 siswa SMK. Jumlah seluruhnya 141.472.

Catatan:
1. Data yang disajikan di situs tersebut bersifat Online dan Real Time.
Setiap saat akan ada perubahan data seiring dengan proses pemutakhiran data yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota/Kab se Indonesia secara online.
2. Beberapa bagian dari seri tulisan ini telah dipubikasikan di Blognya Diklat Prajabatan Angkatan 53 Kabupaten Pekalongan dan Blognya Pramuka Paninggaran.

Daftar Pustaka:
Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan. 2004. Mengenal Kabupaten Pekalongan Beribukota di Kajen. Kajen.
Humas Pemkab Pekalongan. 2006. Potensi dan Unggulan Kabupaten Pekalongan. Kajen.
Bupati Pekalongan, “Kebijakan Pemerintah Kabupaten Pekalongan dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan”, Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Dewan Pendidikan Kabupaten Pekalongan; 16 Maret 2010, Aula Lantai 1 Setda Kabupaten Pekalongan
http://www.pekalongankab.go.id/ diakses 15/03/2011
http://pekalongankab.dapodik.org/ diakses 15/03/2011
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Pekalongan diakses 15/03/2011
http://dprd-pekalongankab.go.id/ diakses 15/03/2011
http://www.jatengprov.go.id/ diakses 15/03/2011
http://www.curugmuncar.co.cc/ diakses 15/03/2011


Tim Pengembangan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
SD Negeri Tanggeran

KEPENDUDUKAN, SOSIAL, EKONOMI, DAN BUDAYA KABUPATEN PEKALONGAN

Bagian Ketiga dari Empat Tulisan
Seri Mengenal Lebih Dekat Kabupaten Pekalongan


D. Jumlah Penduduk, Laju Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk
Jumlah Penduduk Kabupaten Pekalongan akhir tahun 2009 sebanyak 977.711 jiwa, yang terdiri dari 497.533 jiwa penduduk laki-laki dan 480.178 jiwa penduduk perempuan, sementara jumlah penduduk tahun 2008 tercatat 965.745 jiwa yang terdiri dari 490.780 jiwa penduduk laki-laki dan sebanyak 474.965 jiwa penduduk perempuan. Sedangkan data penduduk pemilih potensial Kabupaten Pekalongan tercatat jumlah pemilih sebanyak 717.239 jiwa.


Laju pertumbuhan penduduk tahun 2009 sebesar 1,08% turun bila dibanding dengan tahun 2008 sebesar 1,26%, hal ini menunjukkan bahwa pengendalian laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Pekalongan mengalami penurunan yang signifikan. Adapun jumlah Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Pekalongan Tahun 2009 sebanyak 223.178 KK yang berarti jumlah rata-rata setiap keluarga terdiri dari 4,57 jiwa, meningkat dibanding tahun 2008 sebanyak 226.605 KK.

Kepadatan penduduk Kabupaten Pekalongan tahun 2009 sebanyak 1.169 jiwa/km2, mengalami peningkatan sedikit dibanding tahun 2008 sebanyak 1.157 jiwa/km2, sedangkan penduduk yang paling padat terdapat di Kecamatan Wiradesa yaitu sebanyak 5.119 jiwa/km2 dan kepadatan penduduk yang paling rendah adalah di Kecamatan Petungkriyono yaitu sebanyak 174 jiwa/km2.

Jumlah Penduduk Kabupaten Pekalongan
Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin
Bulan Juni 2010




Kepadatan Penduduk
Kabupaten Pekalongan Per Km2/Tahun
Tahun 2005 s/d 2009






E. Ekonomi
Pada tahun 2003, Kabupaten Pekalongan menerima piagam penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) atas prestasinya dalam menciptakan rekor Selendang Sutera Terpanjang. Selain batik, industri lainnya yang berkembang di Kabupaten Pekalongan antara lain konveksi, pertenunan, bordir, pengolahan ikan, mebel, anyaman bambu, dan batu bata merah serta genting.

Aneka komoditi pertanian dihasilkan dari wilayah ini, antara lain kentang dan kubis dari Kecamatan Petungkriyono yang dipasarkan sampai ke Yogyakarta dan Jawa Timur; durian di Kecamatan Talun, Doro, dan Karanganyar; salak pondoh di Kecamatan Talun dan Doro. Untuk peternakan, populasi sapi dan kambing banyak terdapat di Kecamatan Paninggaran, kerbau di Kecamatan Kajen, kambing di Kecamatan Kandangserang, serta kuda dan unggas banyak terdapat di Kecamatan Wiradesa.

F. Budaya Masyarakat
Kabupaten Pekalongan kaya akan budaya tradisional. Berbagai macam kesenian tradisional banyak dimiliki beberapa desa dan kecamatan di wilayah Kabupaten Pekalongan yang tentu saja dengan ciri khas masing - masing.

Keanekaragaman itu tidak memecah belah masyarakat tapi justru semakin memperkaya khasanah budaya di daerah Kabupaten Pekalongan.

Agenda Syawalan
Upacara Tradisi Syawalan adalah agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Rangkaian acara dalam kegiatan ini terdiri dari Ngarak Tumpeng Nasi Megono (Megono Gunungan) setinggi 2 meter, pemotongan tumpeng oleh Bupati Pekalongan dan diakhiri dengan makan nasi megono gratis bagi para pengunjung.

Kesenian Kuntulan/Sirkus "Gralis Budaya", Desa Sabarwangi Kec. Kajen
Penampilan yang memukau dan terkesan mengerikan menjadikan identitas kesenian ini. Tetapi justru disitulah daya tarik yang dimiliki Gralis Budaya untuk merebut perhatian penonton.

Kesenian Kuda Kepang
Kesenian Kuda Kepang dari Desa Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo, Kabuapaten Pekalongan. Kesenian yang menggunakan Kuda Kepang sebagai sarana utama ini menyuguhkan berbagai atraksi yang menarik. Tarian - tarian dan alunan musik yang begitu harmonis menjadi perpaduan yang indah di setiap penampilan. Biasa dipentaskan pada acara - acara sedekah bumi, hajatan penyambutan tamu, HUT Kemerdekaan, Hari Jadi Kabupaten Pekalongan dan lain-lainl.

Kesenian Jaran Ilir Kecamatan Sragi
Sekelompok pemuda - pemudi yang terpanggil untuk ikut meramaikan dunia seni dan budaya di Kabupaten Pekalongan.Mereka membangun kreatifitas dan berhasil menciptakan seni yang berbeda dari biasanya. (Sumber Buku Profil, Potensi, Peluang Investasi dan Kebijakan Pembangunan Kabupaten Pekalongan Tahun 2007)

Makanan Khas

Pekalongan memiliki banyak makanan khas yang sangat unik dan enak, antara lain :

Megono, yakni irisan nangka muda dengan bumbu sambal kelapa. Rasanya gurih dan pedas dan cocok, biasanya dihidangkan ketika masih panas dengan menu tambahan lalapan pete serta ikan goreng. Di [Kabupaten Pekalongan] bagian selatan biasanya makanan ini dibuat ketika sedang hajatan yang kemudian diberikan untuk oleh-oleh para tamu undangan. Kebiasaan ini telah dilakukan turun temurun dari zaman dahulu kala. Nasi ini dibungkus dengan daun jati atau juga bisa dengan daun pisang, dan mereka biasa menyebutnya dengan nama "Sego Gori" (Nama lain dari Megono).

Taoto, Sejenis sup daging kuah kental khas pekalongan dengan bumbu khas Taoco yaitu kedelai yang dibusukan hingga kental.

Pindang Tetel, Sebetulnya makanan ini sejenis dengan soto juga, namun perbedaanya adalah pada bumbu kuahnya yang diolah dengan menggunakan buah pucung yang sudah masak.

Iwak Panggang, Ikan ini adalah ikan laut yang kemudian diolah dengan proses pengasapan, sehingga ikan tersebut akan berubah warna, rasa dan aroma. Bau ikan panggang ini sangat khas dan banyak kita jumpai di pasar-pasar tradisional [Kabupaten Pekalongan]. Biasanya ikan panggang ini diolah dengan disambal, dipecak, disayur dan digoreng.

Dialek

Kabupaten Pekalongan memmpunyai dialek sendiri, ada dialek yang biasanya diakhiri dengan kata "ra". Contoh: ojo koyo kui ra (jangan seperti itu donk). Semakin ke Selatan dipengaruhi dialeg selatan, yaitu sebuah kalimat kemungkinan selalu di ikuti kata "ndean", kemudian Cok-e, yang berarti kemungkinan seperti: wis mangan, ndean !? wis mangan,cok-e !? sama dengan "sudah makan, mungkin", selain itu ada juga kata "pak ora si" yang artinya "Biar sajalah". Budaya Pekalongan sebagai Kota Santri selalu terbalut dengan tatanan masyarakat kaum yaitu Islamis dengan memegang norma - norma dan adat istiadat. Untuk wilayah Kedungwuni ada sebuah kata yang cukup unik yaitu "jare basan", ini akan selalu terdengar sepertinya "Pak Basan" orang yang sangat pandai....ternyata jare basan itu adalah "paribasan/lega ngatine/seumpamanya"

(Bersambung)


Tim Pengembangan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
SD Negeri Tanggeran

VISI, MISI, DAN LAMBANG KABUPATEN PEKALONGAN

Bagian Kedua dari Empat Tulisan
Seri Mengenal Lebih Dekat Kabupaten Pekalongan



B. VISI DAN MISI

Visi

"Terwujudnya Kehidupan Masyarakat Kabupaten Pekalongan yang Demokratis, Maju, Adil dan Sejahtera"

Misi

1. Meningkatkan perilaku pemerintah dan masyarakat yang demokratis, dinamis dan agamis serta adanya penguatan lembaga pemerintahan dan lembaga kemasyarakatan
2. Meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang baik (good governance), yang menjamin peningkatan kualitas pelayanan publik, menjamin rasa keadilan dan tumbuh kepercayaan dan partisipasi
3. Meningkatkan penyediaan dan pemerataan sarana dan prasarana publik
4. Meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat (kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan) dan sarana pengembangan
5. Menegakkan perundangan dan peraturan daerah yang mencerminkan adanya supremasi hukum dan keadilan serta perlindungan terhadap HAM
6. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah yang bertumpu pada pengembangan potensi ekonomi lokal dan dunia usaha
7. Meningkatkan pengelolaan Sumber Daya Alam yang berorientasi pada pelestarian lingkungan dan pemanfaatan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat
8. Mengembangkan pariwisata dan budaya lokal.

C. LAMBANG DAN MOTTO
Lambang Daerah Kabupaten Pekalongan



1. Dasar Hukum
Surat Keputusan DPRGR Kabupaten Pekalongan nomor 1/PD/DPRGR/II/1967 tentang Lambang Daerah tanggal 29 Agustus 1967 dan nomor 1/PD/DPRGR/II/1971 tentang Penggunaan Lambang Daerah tanggal 16 Pebruari 1971.

2. Bentuk, Isi Lambang, Ukuran serta Warna - Warnanya.
Lambang daerah Kabupaten Pekalongan berbentuk perisai bersayap dalam ukuran segi empat bujur sangkar dengan perbandingan panjang dan lebar 1:1. Dari atas kebawah berisikan lukisan-lukisan

a. Bintang bersudut lima berwarna kuning emas.
b. Perisai tiga warna, berurutan dari kiri ke kanan kuning, sawo matang 9 coklat muda dan coklat tua). Ukuran luas warna coklat muda setengah luas perisai.
c. Ditengah perisai terlukis sebuah keris lurus terhunus berwarna hitam.
d. Laut biru dan ikan berwarna putih.
e. Padi warna kuning dengan daun berwarna hijau memangku perisai. Jumlah butiran padi sebelah kanan 23 biji sebelah kiri 22 biji jumlah keduanya 45 biji.
f. Pita teratur berlukiskan batik jlamprang berisikan 8 ceplok bungan.
g. Elar atau sawat (sayap berekpak) berwarna kuning bergaris hijau. Jumlah elar (bulu elar) sebelah kanan 9 helai sebelah kiri 8 helai, jumlah seluruh elar 17 helai.

3. Makna dan Isi Lambang.
a. Bintang, melambangkan Ketuhanan yang Maha Esa mencerminkan bahwa warga / penduduk Kabupaten Pekalongan umumnya meyakini dan berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b. Sudut Lima pada Bintang, melambangkan Pancasila. Masyarakat di Kabupaten Pekalongan meyakini bahwa Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum dalam mengurus, mengatur dan membina daerah.
c. Perisai Tiga Warna, melambangkan bahwa warga penghuni Kabupaten Pekalongan, terdiri dari warga negara yang berbeda asal, ras, kebangsaannya tetapi tetap bersatu padu. Warna kuning mewakili ras tionghoa, coklat muda ras asli Indonesia, dan coklat tua mewakili ras arab. Ras asli merupakan penghuni yang utama atau lajer (pokok). Dilukiskan di tengah perisai, melambangkan bahwa ras asli merupakan pihak yang merangkum kedua ras lainnya sehingga terjalain hubungan dalam kehidupan baik jasmaniah dan rohaniah.
d. Keris, melambangkan jiwa patriotisme rakyat Kabupaten Pekalongan yang abadi, dalam membela dan membina serta membangun daerah maupun tanah air Indonesia.
e. Laut dan Ikan, melambangkan bahwa sebagian kehidupan rakyat Kabupaten Pekalongan dari laut (nelayan).
f. Padi Memangku Perisai, melambangkan kemakmuran daerah, serta merupakan sumber kehidupan serta makanan pokok rakyat. Jumlah butiran 45 biji melambangakan tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
g. Pita Batik Jlamprang, melambangkan salah satu kesenian rakyat Kabupaten Pekalongan yaitu batik Pekalongan yang merupakan kehidupan rakyat. Ceplok bunga berjumlah 8 melambangkan bulan Agustus.
h. Elar (sawat), melambangkan cita-cita rakyat yang dinamis, cinta damai, menuju arah keagungan daerah dan peri kehidupan yang adil dan makmur serta lahir dan batin.

MOTTO KABUPATEN PEKALONGAN
Untuk mendayagunakan kegiatan pembangunan daerah secara merata diperlukan suatu acuan untuk memotivasi, menggerakkan dan mengerahkan seluruh potensi masyarakat Kabupaten Pekalongan Motto Kabupaten Pekalongan adalah Kota "SANTRI" merupakan singkatan dari Sehat, Aman, Nyaman, Tertib, Rapih dan Indah.

(Bersambung)

Tim Pengembangan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
SD Negeri Tanggeran

SEJARAH KABUPATEN PEKALONGAN

Bagian Pertama dari Empat Tulisan
Seri Mengenal Lebih Dekat Kabupaten Pekalongan


A. SEJARAH

Berdasarkan hasil penelusuran dan pengidentifikasian data-data historis/sejarah Kabupaten Pekalongan sebagaimana tertuang dalam Buku Hari Jadi Kabupaten Pekalongan, sejarah berdirinya Kabupaten Pekalongan dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut :

1. Masa Prasejarah
Data permukiman awal dari masa prasejarah dan awal masa sejarah kuno sebagaimana ditunjukan oleh adanya peninggalan megalitik dan lingga yoni dibeberapa tempat di daerah Kabupaten Pekalongan di bagian selatan menunjukan bahwa pemukiman penduduk telah berlangsung lama dan telah mengenal sistem kemasyarakatan dan keagamaan. Sistem kemasyarakatan yang bagaimana tidak dapat diketahui pasti karena terbatasnya sumber informasi.

Beberapa benda peninggalan sejarah yang berada di daerah Kabupaten Pekalongan berupa Yoni dan Lingga dan bukti peninggalan yang lain seperti:
1. Lingga/ Yoni yang berada di Desa Telagapakis Kecamatan Petungkriyono.
2. Yoni yang berada di Dukuh Gondang Desa Telogohendro wilayah Kecamatan Petungkriyono.
3. Lingga yang berada di Dukuh Mudal Desa Yosorejo wilayah Kecamatan Petungkriyono
4. Lingga/ Yoni yang berada di Dukuh Parakandawa Desa Sidomulyo Kecamatan Lebakbarang.
5. Yoni yang berada di Dukuh Pajomblangan Kecamatan Kedungwuni
6. Yoni yang berada di Dukuh Kaum Ds. Rogoselo Kecamatan Doro.
7. Yoni yang berada di Desa Batursari Kecamatan Talun.
8. Archa Ghanesha yang berada di Desa Kepatihan Kecamatan Wiradesa.
9. Archa Ganesha yang berada di Desa Telogopakis Kecamatan Petungkriyono
10. Batu lumpang yang berada di Desa Depok Kecamatan Lebakbarang.
11. Batu Lumpang yang berada di Dukuh Kambangan di Desa Telogopakis Kecamatan Petungkriyono dan sebagainya.

Data pemukiman pada periode awal Abad Masehi sampai Abad XIV dan XV sangat langka dan terbatas, sehingga sulit dipastikan pertumbuhan dan perkembangan komunitas di wilayah Pekalongan pada masa pengaruh kebudayaan Jawa Hindu berkembang di Jawa. Hal ini terjadi karena sampai masa kini belum ditemukan prasasti peninggalan tertulis yang mampu mengungkapkan kehidupan pada masa itu. Banyak ditemukan toponim, beserta tradisi lisan, berupa legenda mitos, atau cerita rakyat yang berkaitan dengan toponim, akan tetapi sulit untuk memastikan kebenaran data legenda atau cerita rakyat tersebut.

Seperti yang dikemukakan oleh SCHRIEKE, Negara Kertagama, karya tulis penting pada masa Majapahit, sama sekali tidak menyebut nama-nama daerah di Pantai Utara Jawa sebelah barat Lasem yang mencakup daerah Tegal, Pekalongan dan Semarang, yang pada masa itu diduga masih jarang dihuni penduduk. Sementara daerah lain seperti Demak, Jepara , Kudus dan Pati telah berkembang menjadi daerah penting.

2. Masa Kerajaan Demak
Data sejarah pada periode abad ke 15 dan abad ke 16, diperoleh melalui sumber-sumber tertulis disamping sumber-sumber peninggalan bangunan makam kuno, kuburan dan bangunan lain dari masa perkembangan Islam di Jawa.

Pada masa abad ke 16 diduga wilayah Pekalongan telah menjadi daerah yang dilewati oleh hubungan komunikasi dari dua kerajaan Islam Demak dan Cirebon, dan pada masa kemudian menjadi wilayah pengaruh kerajaan Mataram Islam pada abad ke 17. Selanjutnya pada abad ke 18 wilayah Pekalongan menjadi pengaruh VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie), Persekutuan dagang di India Timur - Belanda, terutama sejak tahun 1743, yaitu setelah VOC menerima imbalan jasa bantuan yang diberikan VOC kepada Mataram.

Sejak 1800-an sampai 1942 Wilayah Pekalongan secara langsung menjadi wilayah administratif wilayah Pemerintahan Hindia Belanda, atau disebut wilayah Gubernemen. Sementara itu setelah lahirnya wilayah Republik Indonesia pada 1945 Wilayah Pekalongan tidak beda dengan wilayah lainnya menjadi Wilayah administrasi Pemerintahan Republik Indonesia.

3. Masa Mataram Islam
Pada masa Pemerintahan Mataram Islam dibawah kekuasaan Sultan Agung abad ke-17, keberadaan Kabupaten Pekalongan secara administratif merupakan Bagian dari wilayah kesatuan kerajaan Mataram Islam.

Kerajaan Mataram dibawah tampuk pemerintahan Sultan Agung mencapai kejayaannya. Wilayahnya meliputi wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat. Adapun Jakarta belum berhasil ditaklukkan karena dikuasai oleh Belanda dibawah Gubernur Jenderal Jan Pieter Zoon Coen mulai tahun 1619. Keberhasilan tersebut ditunjang Doktrin Keagungbinataraan, yaitu kekuasaan Raja Mataram harus merupakan ketunggalan, utuh dan bulat. Artinya kekuasaan tersebut tidak tersaingi, tidak terkotak-kotak atau terbagi bagi dan merupakan keseluruhan (tidak hanya bidang-bidang tertentu).

Pada bulan Maulud Nabi Muhammad Saw. selalu diadakan Gerebeg Maulud, yaitu peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw. yang biasa jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal, sekaligus diadakan acara "Paseban" (berkumpulnya para Bupati dan Tumenggung serta para pejabat lainnya untuk melaporkan situasi/keadaan di daerah masing-masing dan penyerahan upeti).

Pada acara tersebut juga dimanfaatkan oleh Sultan Agung untuk pengangkatan bupati-bupati baru dan pejabat baru lainnya. Menurut pandangan tim, keberadaan Sultan Agung dalam memimpin kerajaan Mataram terlebih pada saat perlawanan terhadap penjajah Belanda sudah tidak diragukan lagi keberadaannya sebagai Raja yang Gung Binatoro sehingga tepat apabila sekarang diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

Perlawanan Mataram terhadap penjajah Belanda mencapai puncak disaat penyerangan ke Batavia pada tahun 1628, dimana Pangeran Manduraredja dan Bahureksa ditunjuk sebagai Panglima perangnya.
Secara geografis Kabupaten Pekalongan terletak pada jalur pantura dan perdagangan laut yang cukup setrategis, sehingga pada saat penyerangan ke Batavia Kabupaten Pekalongan sebagai kantong/ lumbung perbekalan. Setrategi ini juga digunakan Sultan Agung untuk mengumpulkan kekuatan-kekuatan didaerah.

Dari bukti inilah menunjukan bahwa Kabupaten Pekalongan termasuk daerah yang dipersiapkan dalam rangka penyerangan ke Batavia. Sehingga menurut pandangan tim, dijadikan alternatif dan bukti bahwa secara administratif Kabupaten Pekalongan merupakan bagian dari kesatuan Kerajaan Mataram.

Terlebih lagi dengan diangkatnya Pangeran Manduraredja sebagai Bupati Pekalongan yang mempunyai kekuasaan tertinggi di Kabupaten Pekalongan dan bertanggung jawab sebagai penyelenggara pemerintahan, serta secara hirarki wajib melaporkan segala sesuatunya kepada raja termasuk penyerahan upetinya.

4. Pekalongan Mulai Dikenal
Banyak sumber mengatakan bahwa Pekalongan mulai dikenal setelah Bahurekso bersama anak buahnya berhasil membuka Hutan Gambiran/Gambaran, atau dikenal pula Muara Gambaran. Hal ini terjadi setelah Bahurekso gagal didalam penyerangan ke Batavia, bersama anak buahnya kembali ke Pantai Utara Jawa Tengah, namun secara sembunyi-sembunyi, sebab kalau diketahui oleh Pemerintah Sultan Agung pasti ditangkap dan dihukum mati. Sehingga terus melakukan yang disebut TAPA-NGALONG. Dari sinilah muncul prediksi-prediksi berkaitan dengan istilah PEKALONGAN.

Menurut penuturan R. Basuki (Putra Almarhum R. Soenarjo keturunan Bupati Mandurorejo) ; nama Pekalongan berasal dari istilah setempat HALONG - ALONG yang artinya hasil. Jadi Pekalongan disebut juga dengan nama PENGANGSALAN yang artinya pembawa keberuntungan. Sehingga prediksi Topo Ngalong itu hanya gambaran/sanepo yang mempunyai maksud siang hari sembunyi, malam hari keluar untuk mencari nafkah.

Didalam babad Sultan Agung yang merupakan sumber yang dapat dipercaya istilah pengangsalan nampaknya juga muncul. :"Gegaman wus kumpul dadi siji, samya dandan samya numpak palwa, gya ancal mring samudrane ; lampahe lumintu, ing Tirboyo lawan semawis ; ing Lepentangi, Kendal, Batang, Tegal, Sampun, Barebes lan Pengangsalan. Wong pesisir sadoyo tan ono kari, ing Carbon nggertata" (senjata-senjata telah berkumpul jadi satu. Setelah semuanya siap, para prajurit diberangkatkan berlayar.

Pelayarannya tiada henti-hentinya melewati Tirbaya, Semarang, Kaliwungu, Kendal, Batang, Tegal, Brebes dan Pengangsalan. Semua orang pesisir tidak ada yang ketinggalan (mereka berangkat menyiapkan diri di Cirebon).

Sehingga dari beberapa uraian tersebut, prediksi Topo Ngalong hanya gambaran atau sanepo yang mempunyai maksud, pada siang hari sembunyi, dan hanya keluar pada malam hari untuk mencari makan/nafkah.

5. Masa Belanda
Masa-masa awal perkembangan Pekalongan tidak banyak disebut dan sumber-sumber asing baik Portugis maupun Belanda , seperti dalam Reis Journalen, Suma Oriental (Tome Pires, 1994), Scheep togt van Tristanto d'acunha (Pieter Van Der Aa, 1706) The Voyager of Jonh Huygen van Linschouten to the east Indies ( A.C Burnell dan P.A Tiele, 1884), dan catatan perjalanan lainnya.

Sumber -sumber tersebut menyebutkan nama kota-kota di pantai Utara Jawa pada Abad XVI seperti Cirebon, Tegal, Kendal, Demak, Jepara, Tuban, Sedayu, Gresik dan Surabaya, akan tetapi tidak menyebutkan Pekalongan.

Sementara itu nama Pekalongan dan data historisnya dapat ditelusuri dalam Babad Tanah Jawa, Babad Mataram, Serat Khandaning Ringgit Purwo, Serat Pustaka Raja Purwo, Babad Sultan Agung , Dagh Register (1623 - 1799) , Opkomst Van Het Nederlandsch gezag in Oost Indie ( J.K.J de Jonge & M.L Van Deventer , eds; 1862 - 1909, 13 jilid ), laporan VOC lainnya, laporan Pemerintah Hindia Belanda, Buku-buku dan Publikasi lainnya seperti regering Almanak van Nederlandsch Indie (1820-1850) dan Oud end Nieuw Oost Indie (F. Valentijn) dan Sumber lainnya.

Pada masa ini administrasi pemerintahan secara keseluruhan berdasarkan keseluruhan berdasarkan keputusan dari pemerintah Hindia Belanda, misalnya bentuk pemerintahan Kabupaten yang disebut Regent, adalah bentuk pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Bupati.

6. Nama-nama Regent/Bupati Pekalongan
Tersebut nama-nama Regent/Bupati Pekalongan :

- Tan Kwee Djan (1741)
- Raden Toemenggoeng Wirio Adi Negoro (1823).
- Raden Adipati Wirijo Adi Negoro (1825)
Membangun Masjid Jami (besar), dimulai pada Hari Selasa Kliwon tanggal 20 Desember 1825.Pada tahun 1933 dilakukan pemugaran dengan mendirikan menara.
- Raden Toemenggoeng Arjo Wirjo Di Negoro (16 Oktober 1848)
- Raden Toemenggoeng Ario Werio Dhi Di Negoro (1856)
- Raden Toemenggoeng Ario Atmodjo Negoro (20 Januari 1872)
- Raden Toemenggoeng Ario Koesoemo Di Negoro (25 Juni 1878)
- Raden Adipati Noto Dirdjo (1879 - 1920)
Pada tanggal 31 Maret 1879 sampai 1 Maret 1880 membangun Gedung Kabupaten Pekalongan, yang ditandai pada lempengan batu marmer putih yang dipasang di tembok gedung. Menurut sumber lisan juga disebutkan bahwa pohon-pohon beringin di Alun-alun Pekalongan tiap-tiap pohonnya diberi nama Kawedanan yang mengirim bibitnya.
- Raden Toemenggoeng Ario Soerjo (10 Maret 1924) Adapun Wilayahnya disebut Regentscap. Sedang untuk kawedanan disebut Gewest.
Gewest di Jawa Tengah waktu itu meliputi :
1) Semarang Gewest, yang meliputi Regentschap (Kabupaten) Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Pati, Djepara dan Grobogan.
2) Rembang Gewest, yang meliputi Regentschap Rembang, Blora, Tuban dan Bodjonegoro.
3) Banyumas Gewest, yang meliputi Regentschap Banyumas, Purwokerto, Cilacap, Bandjarnegara dan Purbolinggo.
4) Kedu Gewest, yang meliputi Regentschap Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworedjo, Kutoardjo, Kebumen dan Karanganjar.
5) Pekalongan Gewest, yang meliputi Regentschap Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan dan Batang.

Pada tahun 1934 diadakan penggabungan beberapa Kabupaten yaitu :
Kabupaten Batang digabungkan dengan Kabupaten Pekalongan.
Kabupaten Banyumas digabungkan dengan Kabupaten Purwokerto.
Kabupaten Kutoardjo digabungkan dengan Kabupaten Purworedjo.
Kabupaten Karanganjar digabungkan dengan Kabupaten Kebumen.

7. Masa Republik Indonesia
Sebagai alternatif lain Hari jadi Kabupaten Pekalongan ialah pada masa Republik Indonesia/kemerdekaan berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948. Kabupaten Pekalongan adalah merupakan Daerah Otonom atau dengan istilah Swatantra.

Hal ini ditandai pula dengan diundangkannya Undang - Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pemerintah Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah pada : Hari Selasa Pon tanggal : 8 Agustus 1950 yang ditetapkan di Yogjakarta, oleh Pemangku Jabatan Sementara Presiden Republik Indonesia Menteri Dalam Negeri SOESANTO TIRTOPRODJO dan Menteri Kehakiman A.G.PRINGGO DIGDO.

Berdasarkan Undang - Undang tersebut Pemerintah Daerah Kabupaten Pekalongan dibentuk bersama 28 daerah lain antara lain : Semarang, Kendal, Demak, Grobogan, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, Pati, Kudus, Djepara, Rembang, Blora, Banjumas, Tjilatjap, Purbalingga, Banjarnegara, Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Kebumen, Boyolali, Sragen, Sukoharjo, Karanganyar dan Wonogiri.

8. Hari Jadi Kabupaten Pekalongan
Keberadaan Kabupaten Pekalongan secara administratif sudah berdiri cukup lama yaitu 3812 tahun yang lalu. Berdasarkan kajian ilmiah oleh Tiem Peneliti Sejarah Kabupaten Pekalongan muncul lima prakiraan tentang kapan Kabupaten Pekalongan itu lahir, lima prakiraan yang menjadi kajian adalah masa prasejarah, masa Kerajaan Demak, masa Kerajaan Islam Mataram, masa Penjajahan Hindia Belanda dan masa Pemerintahan Republik Indonesia.

Hari Jadi Kabupaten Pekalongan telah ditetapkan pada Hari Kamis Legi Tanggal 25 Agustus 1622 atau pada 12 Robiu'l Awal 1042 H pada masa pemerintahan Kyai Mandoeraredja, beliau merupakan Bupati/Adipati yang ditunjuk dan diangkat oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo/ Raja Mataram Islam dan sekaligus sebagai Bupati Pekalongan I, sedangkan penentuan hari dan tanggalnya diambil dari sebagaimana tradisi pengangkatan Bupati dan para pejabat baru dilingkungan Kerajaan Mataram.

Pembangunan Kabupaten Pekalongan sudah dilakukan sejak zaman Pemerintahan Adipati Notodirdjo (1879 -1920 M) di komplek Alun-alun utara no 1 Kota Pekalongan, bangunan tersebut merupakan rumah bagi para Bupati Pekalongan sekaligus sebagai tempat aktivitas perangkat pemerintahan dengan berbagai elemen masyarakat untuk bersilaturakhmi, bermusyawarah dan mencurahkan pemikiran atau unek-unek berbagai kehendak dihadapan bupati.

Proses pemindahan Ibukota Kabupaten Pekalongan diawali dengan peresmian sekaligus penggunaan Gedung Sekretariat Daerah Kabupaten Pekalongan di Kajen oleh Bupati Drs. H Amat Antono pada tanggal 25 Agustus 2001, kepindahan itu merupakan salah satu tonggak sejarah sebagai momen diawalinya Kajen sebagai Ibukota Kabupaten Pekalongan.

Secara bertahap pembangunan untuk melengkapi prasarana menjadi simpul-simpul penggerakan dan pengembangan sebagai sebuah ibukota kabupaten juga telah dibangun rumah dinas Bupati dan Pendopo yang selesai bertepatan dengan hari Jum'at Pon 19 Dzulhijjah 1423 H atau tanggal 21 Pebruari 2003 yang diresmikan secara langsung oleh Menteri Dalam Negeri Bapak Hari Sabarno atas nama Presiden Republik Indonesia Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri pada tanggal 5 April 2003.

Untuk mendayagunakan kegiatan pembangunan daerah secara merata diperlukan suatu acuan untuk memotivasi, menggerakkan dan mengerahkan seluruh potensi masyarakat Kabupaten Pekalongan Motto Kabupaten Pekalongan adalah Kota "SANTRI" merupakan singkatan dari Sehat, Aman, Nyaman, Tertib, Rapih dan Indah.

(Bersambung)

Tim Pengembangan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
SD Negeri Tanggeran

Jumat, 11 Maret 2011

"BMKG Perkirakan Gelombang Tsunami Tiba di Indonesia"


Jumat, 11 Maret 2011 | 15:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah foto detik-detik terjadinya tsunami di pantai timur Jepang disiarkan melalui jaringan kantor berita. Foto diambil dari rekaman video langsung kru stasiun televisi NHK.

Tsunami dipicu oleh gempa dahsyat berkekuatan 8,9 SR yang menghantam timur laut Jepang, Jumat siang. Asap hitam juga membubung dari kawasan industri di daerah Yokohama Isogo. Tayangan televisi menunjukkan bahwa perahu, mobil, dan truk hanyut disapu tsunami. Sebuah jembatan, lokasinya tidak diketahui, tampak runtuh ke dalam air.

Badan Survei Geologi AS (USGS) sebelumnya menyatakan bahwa gempa tersebut berkekuatan 7,9 SR dan berpusat di kedalaman 24,3 km sekitar 130 km di sebelah timur Sendai di pulau utama Honshu. Namun, USGS kemudian menyatakan bahwa gempa berkekuatan 8,9 SR.







AFP PHOTO/NHK
 
Foto dari rekaman video televisi NHK menunjukkan kawasan yang diterjang tsunami di Fukushima, 200 km utara Tokyo, Jumat (11/3/2011).

Sumber: Compas.com

Sementara itu, terkait tsunami tersebut, situs Kantor Berita Antara, Antara News, menurunkan berita pada Jumat, 11 Maret 2011 15:51 WIB tentang kemungkinan terjangan tsunami di Indonesia.

Jakarta (ANTARA News) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan gelombang tsunami akan menghantam Indonesia kawasan timur, menyusul terjadinya gempa 8,9 Skala Richter yang diikuti tsunami di pesisir Pasifik Miyagi di pulau utama Honshu, Jepang, Jumat.

Berdasarkan akun twitter BMKG, gelombang tsunami tersebut akan menghantam sejumlah daerah di Indonesia seperti Irian Jaya, Maluku Utara, Papua dan Sulawesi Utara pada Jumat pukul 18.00 WIB.

Hingga saat ini pihak BMKG masih belum bisa dihubungi terkait dengan peringatan BMKG sebelumnya.

Gempa dan tsunami kuat yang terjadi pada pukul 12.46 WIB dengan lokasi koordinat 38.49 Lintang Utara, 142.79 Bujur Timur, dengan kedalaman 44 km juga menyebabkan kapal-kapal menghantam pantai dan menyapu mobil-mobil yang melewati jalan-jalan di kota-kota pesisir negara itu.

Selain Indonesia, gelombang tsunami Jepang tersebut juga mengancam sejumlah negara seperti kepulauan Kuril, Rusia, Hawai, Kepulauan Mariana dan Taiwan.

Sementara itu, Kementerian urusan darurat Rusia Jumat mengeluarkan peringatan tsunami untuk gugusan Kepulauan Kuril setelah gempa kuat mengguncang laut Jepang, kata para pejabat saperti yang dilaporkan AFP .

Sementara itu di Taipei, pusat biro cuaca Taiwan pada Jumat memperingatkan orang-orang yang tinggal di pesisir pulau timur dan timur laut dalam siaga tsunami yang dipicu oleh gempa besar di Jepang.

Gelombang besar ini diperkirakan akan mencapai Hualien dan Taitung di pantai timur pulau Taiwan pada sekitar pukul 09:30 GMT dan pelabuhan timur laut Keelung setengah jam kemudian, kata biro itu.

Gempa pertama terjadi pada sekitar 382 kilometer (237 mil) di timur laut Tokyo, menurut Survei Geologi AS, yang merevisi besarnya kekuatan gempa 7,9 SR yang diumumkan sebelumnya.

Jepang, terletak pada "Cincin Api Pasifik" dan terdapat beberapa gunung berapi. Tokyo terletak di salah satu wilayah yang paling berbahaya.

Hal ini juga menempatkan wilayah Guam, Filipina, Kepulauan Marshall, Indonesia, Papua Nugini, Nauru, Mikronesia dan Hawaii mendapat limpahan tsunami yang lebih rendah.(A050)

Sumber: Antara News

Info lainnya sekitar tsunami, silahkan baca:

Siaga Tsunami, AS Peringatkan Pasifik

Gempa Jepang Timbulkan Tsunami 4 Meter

Warga Gorontalo Utara Mengamankan Diri

Tak Ada PLTN Jepang yang Bocor Akibat Tsunami

Ada 414 WNI di Pusat Tsunami Jepang

Foto-foto Tsunami Jepang 2

Awas Tsunami Jepang Menjalar ke Beberapa Negara

Video Tsunami Jepang 2011

 

Dzakiron
Pemimpin Redaksi

Berlangganan Artikel via Email

Silahkan masukkan email Anda:

Delivered by FeedBurner